Find Us on Facebook

Instagram Gallery

Configuration error or no pictures...

SKILLS.ID

Subscribe to Our Channel

Monday, July 13, 2020
redaksi@topcareer.id
Lifestyle

Review Film Joker: Kala Kebobrokan Sosial dan Depresi Melahirkan Penjahat

Topcareer.id – Ketika menawarkan ide Joker di tahun 2016, Todd Phillips bisa jadi belum sadar kalau proyek itu akan mengubah reputasinya dari sutradara film dark comedy macam Road Trip dan The Hangovers, menjadi pencipta salah satu film paling kontroversial di 2019.

Kala itu bersama Scott Silver, Todd menggodok naskahnya di sepanjang 2017. Sejumlah nama pun sempat digaungkan untuk memerankan musuh Batman paling populer ini. Mulai dari Leonardo DiCaprio, hingga akhirnya jatuh kepada Joaquin Phoenix.

Sinopsis Joker

Film Joker lahir di tengah olengnya mega proyek Warner Bros, DCEU (DC Extended Universe), jagad superhero DC Comics yang hingga kini masih belum jelas nasibnya.

Sedikit mengambil inspirasi dari novel grafis Batman: The Killing Joke, film ini mengisahkan pria dewasa bernama Arthur Fleck yang tinggal bersama ibunya. Arthur diceritakan bekerja sebagai badut panggilan, dan bercita-cita menjadi seorang standup komedian.

Dalam menjalani hari-harinya, Arthur tertekan dengan keadaan ekonomi timpang, serta sikap masyarakat yang semakin kejam. Depresi yang diderita Arthur, serta perlakuan lingkungan sekitar yang semakin brutal akhirnya membuatnya memilih langkah yang berbahaya: seorang psikopat.

Mengalir bak bola salju

Tampil selama 2 jam 2 menit, Todd Phillips benar-benar memanfaatkan sebagian besar durasi untuk menyelami karakter Arthur Fleck.

Film yang mengambil setting di era 1970-an ini seolah memberi gambaran bagaimana masyarakat bisa membentuk seseorang ‘tak berdaya’ seperti Arthur menjadi salah satu penjahat paling disegani bernama Joker.

Persepsi itu diperkuat dengan kondisi Kota Gotham yang digambarkan carut-marut diterpa masalah. Mulai dari masalah sampah, hama tikus, arogansi pemerintah, hingga tingkat kesejahteraan yang kian menyedihkan dari hari ke hari.

Dari sisi akting, Joaquin Phoenix layak mendapat tepuk tangan meriah untuk performanya yang brilian. Ia tak hanya meyakinkan secara fisik, namun juga mampu menterjemahkan penggambaran Todd dengan sangat baik.

Begitu juga dengan Robert De Niro yang berhasil mencuri perhatian lewat durasi penampilannya yang tergolong minim.

Salah satu yang perlu dicatat, film Joker tak tergoda menghadirkan hal-hal familiar dari DC Universe seperti easter eggs para superhero yang berpotensi menjadi distraksi.

Film ini lebih memilih untuk menyiapkan ‘bola salju’ yang akan menghantam penonton dengan sangat efektif di sekitar 25 menit terakhir.

Beberapa adegannya tak hanya hadir sebagai kenikmatan visual (yang mungkin terlalu sadis bagi sebagian orang, dan dengan begitu jangan ajak anak-anak nonton film ini), namun juga menjadi refleksi tentang norma-norma yang secara tak disadari sudah mulai hilang dari kehidupan bermasyarakat kita.

Joker, sungguh film yang layak untuk ditonton. *

Editor: Ade Irwansyah

the authorFeby Ferdian

Leave a Reply