TopCareerID

Mengenang Djaduk Ferianto, Seniman Serba Bisa yang Telah Tiada

Djaduk Ferianto. (dok. Istimewa)

Topcareer.id – Bagi generasi 2000-an yang ketika kecil nonton film Petualangan Sherina (sutr. Riri Riza, 2000), mungkin di film itu mereka mengenal nama Djaduk Ferianto yang meninggal dunia di usia 55 tahun akibat serangan jantung.

Di film itu, Djaduk berperan sebagai Kertarajasa, tokoh antagonis, seorang pengusaha yang ingin merampas tanah milik Ardiwilaga (Didi Petet) dan mengotaki penculikan Sherina dan putra Ardiwilaga, Sadam (Derby Romero).

Baca juga: Djaduk Ferianto Meninggal Dunia

Film itu melambungkan nama Sherina sebagai aktris cilik. Lewat akun Instagram-nya, Rabu (13/11/2019) pagi, Sherina mengungkap rasa duka atas kepergian Djaduk. “Selamat jalan om Djaduk,” tulisnya sambil menyertakan foto ketika kecil sedang dipeluk almarhum yang juga memeluk Derby Romero.

Djaduk Ferianto bersama Derby Romero dan Sherina (dok. Instagram Sherina)

Tentu saja, yang berduka tak cuma Sherina. Di Twitter, esais dan seniman Goenawan Mohamad menyebut Djaduk seorang teman yang menyenangkan dalam bekerja sama. Katanya pula, “Kita kehilangan seorang musikus yang membahagiakan orang banyak.”

Kata pria yang akrab disapa GM ini lagi: “‘Urip mung mampir ngombe,’ kata orang-orang tua. Hidup hanya sekedar singgah untuk minum; tapi Djaduk juga membawa air untuk orang lain.”

Lahir dari keluarga seniman

Profil pendek Djaduk di “Apa dan Siapa” terbitan Pusat Data dan Analisa Tempo (PDAT) menyebut pria kelahiran Yogyakarta, 19 Juli 1964 ini semula tak dilahirkan dengan nama yang orang kenal sekarang. Namanya sewaktu lahir Guritno, pemberian pamannya. Namun hingga 1974 ia sakit-sakitan. Kata orang tua zaman dulu, keberatan nama.

Maka oleh sang ayah, seniman Bagong Kussudiarjo, nama putra bungsunya itu diganti jadi Djaduk yang berarti “unggul”. Disebutkan pula nama itu diambil dari teman yang dikagumi ayahnya, Djaduk Setiawan.

Ketertarikan pada seni sudah muncul sejak kecil. Semula ia menyukai wayang. “Saya (sempat) bercita-cita jadi dalang, bahkan pernah belajar mendalang,” tutur Djaduk. Belakangan ketertarikannya pada musik lebih besar.

Syahdan, adik kandung Butet Kartaredjasa ini dipercaya ayahnya mengiringi pergelaran tari. Dan, dipercaya pula membuat musiknya. Dengan latar belakang keluarga seperti itu, usai sekolah menengah ia melanjutkan ke sekolah tinggi kesenian yang kemudian bernama Institut Seni Indonesia (ISI).

Uniknya, di ISI Djaduk tak mengambil jurusan musik, tetapi seni rupa dan desain. Namun pada akhirnya ia menekuni bidang musik dengan serius, sehingga akhirnya, sebut Franki Raden di sebuah profil singkat, Djaduk dikenal sebagai salah satu tokoh dunia musik kontemporer Indonesia generasi 1980-an.

Langkahnya menapaki musik kontemporer sudah dimulai sejak 1970-an. Pada 1976, ia bereksperimen lewat musik dan ikut mendirikan kelompok Rheze, yang kemudian mendapat juara I Lomba Musik Humor tingkat nasional. Ikut dalam proses pembuatan musik untuk Festival Film Indonesia 1984 dan Pekan Tari Muda VI Dewan Kesenian Jakarta.

Djaduk Ferianto (dok. Joss)

Ia banyak belajar soal musik dan film dengan Teguh Karya dan Arifin C. Noer. Ada pun olah pernapasan dalam memainkan alat musik tiup, ia pelajari di Jepang. Kemudian ia belajar musik di New York.

Djaduk banyak mencipta musik, untuk ilustrasi musik film dan sinetron, jingle iklan, untuk teater, atau sejumlah event olahraga. Ia banyak mengikuti pementasan keliling, termasuk Jerman, Denmark, Swedia, Belanda, dan Turki.

Kritik sosial lewat kesenian

Pengamat musik Franki Raden menulis, pengalaman hidup dalam lingkungan kesenian tradisional, terutama Jawa, menjadi bekal musikalnya yang unik. Bekal seni tradisional ini nampak membentuk ekspresi musikalnya selalu menyertakan elemen teatrikal.

Di samping itu, pergaulannya dengan kalangan cendekiawan dan seniman Yogyakarta yang kritis pada masa Orde Baru turut pula mempengaruhi karyanya. Ia kerap menyertakan kritik sosial dan politik pada rezim Orde Baru. Dua di antaranya, yang patut disebut dalam karya awalnya, adalah adalah “Ngeng-Ngeng” (1993) dan “Kompi Susu” (1998).

Raden menyebut “Ngeng-Ngeng” menunjukkan kemampuannya menggunakan bahasa teatrikal secara non-verbal. Sedangkan “Kompi Susu” adalah kritik efektif berbalut humor pada tradisi militerisme Orde Baru.

Sebagai seniman, Djaduk tak pernah berhenti mencari idiom seni yang orisinal. Ia pernah bergabung dengan Kyai Kanjeng pimpinan Emha Ainun Najib dan lalu membentuk kelompok musik ensambel sendiri, Kuaetnika.

Dari Kuaetnika hingga Ngayogjazz

Lewat Kuaetnika pula, pada 1990-an nama Djaduk terangkat ke pentas nasional setelah tampil rutin di acara Dua Warna di RCTI. Sebagai pengiring musik, Djaduk mencipatakan gaya musik fusion yang populer kala itu.

Bersama Kuatenika kemudian Djaduk Ferianto menjadi besar di jagat seni kita. Telah banyak lahir karyanya. Salah satunya konser musik “Sasaji Nagari” yang digelar Februari silam.

Konser musik Kuaetnika. (dok. Beritagar)

Sebagaimana tradisi Kuaetnika, di konser itu pun Djaduk mengawinkan musik tradisional dan kontemporer. Ia membawa pula peralatan dapur dan mainan anak-anak sebagai tambahan tetabuhan. Hasilnya, “Perpaduan musik yang kreatif ditampilkan dalam panggung yang mewah,” sebut laman Beritagar dalam ulasannya.

Beragam tetabuhan itu pula dikatakan Djaduk melambangkan kondisi Indonesia yang terdiri atas beragam etnik dan agama. “Semua punya hak sama, kalau ada mayoritas harus saling berdialog. Perbedaan bukan permusuhan. Jadi kalau beda pendapat, ada satu perdebatan bukan berarti musuh,” kata Djaduk.

“Sasaji Nagari” sendiri diartikan sebagai puji-pujian dan doa yang dipersembahkan untuk negeri. Saat ini kondisinya negeri kita dinilai tengah mengalami kegelisahan dan sedang sedih.

Selain mendirikan Kuaetnika, bersama Butet dan Purwanto tahun 1995. Dia juga pendiri orkes musik keroncong Sinten Remen dan penggagas Ngayogjazz.

Ngayogjazz digagas Djaduk Ferianto bersama teman-temannya sejak 2007. Panggung musik untuk tahun ini akan digelar tanggal 16 November 2019 mendatang di Godean, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Ini festival musik jazz yang unik karena digelar di pedesaan Yogayakarta dan menjadi ikon yang melekat dengan Djaduk. Bukan sekadar memindahkan musik Barat ke desa, sejak awal Ngayogjazz turut pula memberdayakan warga desa tempat festival berlangsung. Penduduk desa turut terlibat dan diikutsertakan dalam pasar tiban bernama Pasar Jazz sebagai usaha pemberdayaan ekonomi warga.

Sayangnya belum lagi acara itu digelar, Djaduk Ferianto sudah mengembuskan nafas terakhir, Rabu dini hari atau 3 hari sebelum acara festival jazz itu digelar.

Benar kata Goenawan Mohamad, selama hidup Djaduk memberi manfaat pada orang lain. Sedangkan Franki Raden menyebutnya sebagai seniman Indonesia yang komplet. Perkembangan pribadi keseniannya, sebut Raden, merupakan sebuah cermin dinamika kehidupan seni di negeri ini. Ia seorang anak zaman yang kedudukannya menjadi sangat khusus.

Selamat jalan Djaduk Ferianto, Pak Kertarajasa kita.*

Editor: Feby Ferdian

Exit mobile version