Find Us on Facebook

Instagram Gallery

Configuration error or no pictures...

SKILLS.ID

Subscribe to Our Channel

Friday, January 22, 2021
redaksi@topcareer.id
Tren

Penyakit-Penyakit Umum Bawaan yang Memperparah Covid-19 (Bagian 2)

Ilustrasi. (dok. Medical News Today)

Topcareer.id – Berdasar studi kasus dari para peneliti, ditemukan data bahwa pasien yang sudah tua dengan penyakit bawaan atau kondisi kesehatan yang buruk sebelumnya, lebih sering mengalami gejala virus corona yang parah.

Menurut sebuah laporan tentang karakteristik pasien dari National Institute of Health Italia yang dirilis 17 Maret 2020 lalu, 99% dari pasien Covid-19 yang meninggal memiliki setidaknya satu kondisi penyakit yang sudah ada sebelumnya.

Berbagai kondisi yang sudah ada sebelumnya, dari penyakit jantung, diabetes tekanan darah tinggi hingga penyakit ginjal, ditemukan pada tingkat yang berbeda pada pasien yang telah meninggal.

Dilansir dari Business Insider, berikut beberapa masalah kesehatan yang dapat memengaruhi tingkat keparahan infeksi virus corona Covid-19.

Bagian akhir dari tulisan.

6. Ginjal kronis

Studi menemukan bahwa 18% pasien dengan tingkat infeksi virus Covid-19 yang parah memiliki riwayat penyakit ginjal kronis.

National Kidney Foundation merekomendasikan pasien ginjal mengikuti saran yang sama dengan populasi umum, yakni tetap di rumah jika memungkinkan; rajin mencuci tangan dan membersihkan permukaan; serta memiliki cukup persediaan medis yang diperlukan.

Pasien dialisis tidak boleh melewatkan perawatan mereka, dan mereka yang merasa sakit harus mengingatkan anggota tim perawatan kesehatan mereka.

7. Penyakit paru obstruktif kronik (PPOK)

PPOK atau penyakit paru-paru seperti emfisema kronis dan bronkitis juga ditemukan pada 13,2% kematian. Orang dengan penyakit paru-paru seperti emfisema atau bronkitis memiliki paru-paru yang lebih lemah ketika mencoba melawan infeksi pernapasan.

Ketika Covid-19, penyakit yang disebabkan oleh coronavirus baru, menjalar ke seluruh tubuh, ia dapat menyerang paru-paru. Infeksi ini menyebabkan peradangan pada lapisan paru-paru; iritasi pada saraf di sekitar mereka; dan dapat menyebabkan peradangan di kantung udara di bagian bawah paru-paru. Itu dapat menyebabkan pneumonia, sebuah kondisi ketika paru-paru terisi oleh cairan.

8. Stroke

Setidaknya 9,6% dari pasien Covid-19 yang meninggal di Italia sebelumnya menderita stroke. Menurut Asosiasi Stroke, stroke itu sendiri tidak menempatkan orang yang selamat dalam bahaya langsung dari virus corona. Namun, banyak dari mereka yang mengalami stroke termasuk dalam kategori lain yang berisiko terhadap virus.

“Kamu memiliki risiko komplikasi yang lebih besar jika kamu adalah orang yang lebih tua, atau memiliki kondisi kesehatan seperti diabetes, penyakit jantung, penyakit pernapasan atau penyakit ginjal kronis,” tulis Stroke Association dalam sebuah pernyataan.

“Memiliki sistem kekebalan yang lemah atau menjalani beberapa perawatan seperti steroid dan kemoterapi juga dapat membuatmu lebih berisiko.”

9. Demensia

Pasien Covid-19 yang meninggal, 6,8% menderita demensia.

Penyakit demensia sendiri sebenarnya meningkatkan risiko Covid-19 atau gejala parah. Namun karakteristik para penderitanya lah yang perlu diwaspadai. Contohnya ketika mereka lupa untuk mencuci tangan secara teratur dan menyeluruh, itu akan memengaruhi kesehatan mereka.

Asosiasi Alzheimer merekomendasikan pengasuh penderita demensia mengambil langkah ekstra untuk memastikan orang yang mereka cintai tetap aman. Misalnya menempel pengingat tentang mencuci tangan di sekitar rumah dan memiliki persediaan obat penting.

10. Penyakit hati kronis

Penyakit ini adalah kondisi ke 10 yang paling umum di antara pasien Covid-19 yang meninggal. Sebesar 3,1% pasien menderita penyakit ini. Tidak jelas bagaimana tepatnya Covid-19 memengaruhi hati, tetapi bahkan orang-orang dengan organ yang sehat mungkin berisiko mengalami kerusakan hati akibat virus, menurut The Hospitalist.

Orang dengan transplantasi hati yang menggunakan obat penekan kekebalan mungkin berisiko tinggi, tetapi harus berbicara dengan dokter mereka sebelum mengubah atau menghentikan rejimen obat apapun, menurut Liver Trust Inggris.

Editor: Feby Ferdian

Leave a Reply