TopCareerID

Tidur Terlalu Lama Ternyata Berbahaya bagi Tubuh

Dok. Skyland Trail

Topcareer.id – Banyak kabar beredar yang menyatakan bahwa tidur baik bagi kesehatan. Tentu saja hal ini benar, selama tidurnya tidak terlalu lama atau oversleeping.

Seperti diketahui, tidur yang cukup baik bagi kesehatan karena memberi tubuh dan pikiran cukup istirahat dan kembali bugar setelah bangun.

Lalu, bagaimana dengan tidur yang berlebihan? Dikutip dari laman amersleep.com, Selasa (24/3/2020), berikut beberapa bahaya yang harus kamu waspada.

Gangguan fungsi otak dan kesehatan mental
Otak memerlukan waktu untuk membersihkan diri, menyeimbangkan neurotransmiter dan memproses ingatan saat istirahat. Para peneliti menemukan bahwa kinerja kognitif pada otak memuncak ketika orang tidur sekitar tujuh jam, dan justru memburuk pada orang yang terlalu lama tidur atau kurang istirahat. Studi lain juga menemukan gangguan memori dan penurunan fungsi kognitif akibat tidur lebih lama.

Peningkatan faktor peradangan
Peradangan kronis dalam tubuh dikaitkan dengan peningkatan risiko segalanya, mulai dari diabetes, penyakit jantung, hingga penyakit Alzheimer. Faktor gaya hidup tertentu seperti merokok, obesitas, dan infeksi yang berkepanjangan dapat berkontribusi terhadap peradangan. Terlalu sedikit atau terlalu banyak tidur juga berperan.

Meningkatkan rasa sakit
Walaupun seringkali terlihat intuitif untuk lebih banyak tidur ketika kesakitan, namun penelitian menunjukkan bahwa dalam beberapa kasus, terlalu banyak tidur dapat memperburuk gejala.

Nyeri punggung bisa bertambah buruk karena terlalu sedikit aktivitas atau terlalu sering menghabiskan waktu di tempat tidur. Terlalu banyak tidur juga dikaitkan dengan tingginya tingkat sakit kepala.

Kesuburan terganggu
Sebuah penelitian terhadap wanita Korea yang menjalani terapi fertilisasi in vitro menemukan bahwa wanita yang tidur tujuh hingga delapan jam memiliki peluang terbaik untuk hamil. Tidur di luar kisaran jam normal, hormon dan siklus sirkadian dapat terpengaruh. Ini mengganggu kesuburan.

Meningkatkan resiko diabetes
Sebuah penelitian di Kanada mengamati kebiasaan gaya hidup 276 orang selama enam tahun. Mereka menemukan bahwa orang dengan durasi tidur panjang dan pendek lebih mungkin untuk mengembangkan toleransi glukosa dan diabetes. Sebuah tinjauan baru-baru ini mengenai diabetes dan studi tidur menemukan hubungan yang konsisten antara peningkatan risiko diabetes tipe 2 dengan pola tidur tersebut.

Peningkatan berat badan
Menggunakan data yang sama dengan penelitian Kanada enam tahun sebelumnya, para peneliti juga menemukan hubungan antara penambahan berat badan dan tidur. Tidur berlebih atau kurang berpotensi menambah berat badan daripada tidur normal.

Risiko penyakit jantung
Menggunakan informasi dari Survei Pemeriksaan Kesehatan dan Gizi Nasional (NAHNES), para peneliti menghubungkan tidur pendek dan panjang dengan risiko penyakit jantung koroner dan stroke yang lebih tinggi. Studi ini menemukan bahwa orang yang tidur lebih dari delapan jam per malam dua kali lebih mungkin untuk mengalami angina (nyeri dada yang disebabkan oleh berkurangnya aliran darah) dan 10% lebih mungkin untuk memiliki penyakit jantung koroner.

Risiko Stroke Tinggi
Sebuah penelitian terbaru dari Universitas Cambridge yang melibatkan 9.700 orang Eropa selama 11 tahun, menyebutkan bahwa orang-orang yang tidur lebih dari delapan jam, 46% lebih mungkin untuk mengalami stroke selama masa studi. Angka ini didapat setelah disesuaikan dengan faktor komorbiditas.

Orang-orang yang durasi tidurnya meningkat selama penelitian, memiliki risiko empat kali lebih tinggi terkena stroke daripada yang konsisten.

Editor: Feby Ferdian

Exit mobile version