Find Us on Facebook

Instagram Gallery

Follow @topcareerid Instagram

SKILLS.ID

Subscribe to Our Channel

Monday, June 1, 2020
redaksi@topcareer.id
Tren

Masalah yang Mungkin Dialami Anak-anak yang Kembali Sekolah Usai Pandemi dan Solusinya

Sekolah di Denmark. (dok. gulfnews)

Topcareer.id – Sebagian besar siswa saat ini belajar di rumah karena pandemi telah menutup tempat-tempat publik termasuk sekolah. Hingga kini belum ada jadwal pasti kapan anak-anak bisa kembali sekolah normal.

Tapi, akan ada perubahan yang terjadi di lingkungan pendidikan jika pandemi berakhir. Seperti dalam laman HuffPost Amerika, sejumlah ahli memprediksi bahwa anak-anak masih akan berurusan dengan emosi yang sangat kompleks usai pandemi dan saat kembali sekolah.

Baik orangtua maupun sekolah kini harus memahami bahwa transisi tidak akan sederhana. Beberapa ahli mencatat bahwa anak-anak mungkin mengalami kecemasan perpisahan yang belum pernah terjadi sebelumnya setelah menghabiskan berbulan-bulan di rumah.

Baca juga: Cerita Denmark Membuka Kembali Sekolah Usai Lockdown 1 Bulan

Anak-anak mungkin bingung mengapa sekolah sangat berbeda sekarang. Mereka mungkin kehilangan orang yang dicintai karena virus corona. Mereka mungkin memiliki perasaan takut akan terpapar virus.

Rachel Busman, seorang psikolog dan direktur senior Child Mind Institute’s Anxiety Disorders Center mengatakan orang tua dapat membantu dalam hal ini.

“Ketika anak-anak khawatir, kami ingin bertanya mengapa dan mendapatkan lebih banyak informasi alih-alih berasumsi kami tahu,” kata Busman dalam laman HuffPost.

“Misalnya, jika seorang anak mengatakan bahwa mereka takut untuk kembali ke sekolah, katakan, ‘Saya benar-benar ingin lebih memahami. Apa yang paling kamu khawatirkan?’”

Sekolah juga harus memeriksa kesejahteraan emosional anak-anak, tapi tetap selalu memberikan saran keselamatan selama sekolah, tanpa bersikap terlalu ketat. Ini akan menjadi praktik normal untuk sementara waktu.

“Ada banyak kecemasan. Tidak mungkin menempatkan anak berusia 4 tahun di sekolah dan memintanya untuk menjauh 2 meter dari anak lain atau tidak menyentuh permukaan. Itu tidak akan terjadi,” kata Nermeen Dashoush, seorang profesor pendidikan anak usia dini di Universitas Boston.

“Kami tidak dapat menempatkan mereka dalam situasi di mana kami mengaturnya untuk kekacauan dan mungkin memperkuat kecemasan yang sudah mereka rasakan.” *

Editor: Ade Irwansyah

Leave a Reply