TopCareerID

Studi: Makan Es Krim Bisa Turunkan Tingkat Stres. Ini Penjelasannya

Topcareer.id – Pernahkah kamu merasa mengapa sangat sulit untuk berhenti makan es krim saat perasaanmu sedang galau atau sakit hati bahkan stress?

Sebuah studi baru menunjukkan bahwa emosi seseorang dapat membuat indera perasanya merasakan rasa makanan secara berbeda. Dan yang paling penting, indera perasa jadi kurang mampu merasakan berapa banyak lemak yang sudah dimakan.

Para peneliti dari University of Wurzburg, di Jerman, juga menemukan bahwa ketika orang sangat senang atau sangat sedih mereka lebih mampu mendeteksi rasa pahit, manis dan asam.

Bahkan, setelah menonton video emosional, kemampuan peserta studi untuk mendeteksi selera ini meningkat sebesar 15 persen. Mereka meminta sekelompok relawan untuk mencicipi berbagai minuman krim yang mengandung kadar lemak berbeda.

Baca Juga: Jenis Diet Ini Mungkin Tak Cocok Saat Wabah Virus Corona Melanda

Sebelum ikut mencicipi, mereka diperlihatkan tiga klip video berbeda. Satu menunjukkan adegan bahagia, satu adegan sedih, dan satunya lagi membosankan.

Ditemukan bahwa menonton video yang membosankan tidak memiliki pengaruh terhadap selera pasien. Namun, setelah menonton video emosional, para relawan kurang mampu mendeteksi apakah minumannya tinggi lemak atau tidak.

Dr Paul Breslin, rekan penulis studi, mengutip DailyMail, Kamis (18/6/2020) mengatakan bahwa dia terkejut menemukan ketika seseorang mengalami emosi, stress, terlalu senang atau terlalu sedih, orang tersebut jadi kurang mampu mendeteksi lemak, sementara kemampuan mereka untuk merasakan rasa makanan meningkat.

Baca juga: Diet Ini Mampu Turunkan Berat Badan Hingga 7 Kg, Mau Coba?

Dia menjelaskan bahwa temuan ini cocok dengan pernyataan yang menyiratkan bahwa orang yang menderita depresi atau stres kurang mampu mendeteksi kadar lemak dalam makanan mereka.

Sebuah studi Weight Watchers menemukan bahwa tiga perempat warga Inggris mengabaikan saran diet dan sering memakan makanan yang tidak sehat asalkan bisa mengangkat semangat dan mood mereka di masa suram.

Akibatnya, laporan itu mengklaim bahwa sekitar 18,3 juta orang mengalami kenaikan berat badan berlebih karena akibat situasi buruk keuangan mereka.

Penelitian ini juga mengungkapkan bahwa orang-orang tertarik dengan godaan makanan yang tidak sehat dengan harga menarik. Delapan dari sepuluh orang Inggris yang kekurangan uang mengakui lebih memilih makanan murah daripada pilihan menu sehat.* (RW)

Exit mobile version