Find Us on Facebook

Instagram Gallery

Configuration error or no pictures...

SKILLS.ID

Subscribe to Our Channel

Tuesday, September 22, 2020
redaksi@topcareer.id
Tren

Ingin Donor Plasma untuk Bantu Perangi Covid-19? Ini Syaratnya

Sumber foto: Blood.co.uk

Topcareer.id – Jika kamu sempat mengalami sakit Covid-19, dan berhasil menyembuhkan diri, ini waktunya bagi kamu untuk membantu pasien Covid-19 lainnya yang masih dirawat. Caranya dengan mendonorkan plasma kamu.

Seperti kita tahu, sekarang ini Terapi Plasma Convalescent tengah menjadi pengobatan alternatif untuk menyembuhkan pasien Covid-19. Terapi ini memanfaatkan antibodi yang terbentuk dalam tubuh manusia ketika terinfeksi jamur, bakteri atau virus.

“Nah, antibodi itu, ketika pasiennya sudah sembuh, berarti pasiennya sudah bisa mengatasi infeksinya itu, (dan) bisa dipakai untuk membantu orang lain yang masih sedang sakit. Jadi prinsipnya seperti zona,” ujar Direktur Lembaga Molekuler Eijkman, Prof. Amin Soebandrio dalam dialog di Media Center Gugus Tugas Nasional, Jakarta, Jumat (26/6).

Jika kamu tertarik untuk mendonorkan plasma kamu, ada beberapa syarat yang kamu penuhi. Salah satunya adalah berkas administrasi, seperti surat kesediaan.

Prof. Amin menjelaskan, terapi yang berlangsung baik memperhatikan tiga komponen, yaitu pendonor yang sehat, produk yang baik, dan penerima plasma.

“Kemudian yang ketiga, penerimanya harus tidak boleh ada ketidakcocokan golongan darah, walaupun lebih ringan dari persyaratan golongan darah, karena ini hanya plasma ya,” ujar Prof. Amin.

Selain itu, pengambilan plasma ini sendiri dilakukan pada pendonor berjenis kelamin laki-laki, karena laki-laki tidak memiliki antigen HLA. Namun demikian, perempuan pun punya peluang dalam hal ini, asalkan tidak sedang hamil.

“Kemudian kita mesti memastikan kondisi kesehatan yang lainnya, laboratorium harus baik, Covidnya harus negatif, dan persyaratan donor darah harus terpenuhi. Misalnya dia tidak boleh mengandung malaria, virus HIV, hepatitis dan sebagainya. Itu harus negatif,” ucap Prof. Amin.

Di samping itu, Amin menambahkan bahwa terapi plasma convalescent tidak boleh untuk pencegahan. Terapi ini diberikan kepada pasien yang kondisinya menengah hingga berat. “Jadi dia tidak menggantikan vaksin,” tegasnya.

the authorFeby Ferdian

Leave a Reply