TopCareerID

Mengenal Neuroplasticity dan Bagaimana Otak Mengalaminya

Ada cara unik biar otak makin cerdas

Ilustrasi. (dok. Technology Network)

Topcareer.id – Neuroplasticity atau neuroplastisitas adalah istilah yang mengacu pada kemampuan otak untuk berubah dan beradaptasi sebagai hasil dari mempelajari pengalaman baru.

Ketika orang mengatakan bahwa otak memiliki neuroplastisitas, bukan berarti bahwa otak mirip dengan plastik. Neuro mengacu pada neuron, sel-sel saraf yang merupakan blok bangunan otak dan sistem saraf, dan plastisitas mengacu pada kelenturan otak.

Apa itu neuroplastisitas (Plastisitas Otak)?
Otak manusia terdiri dari sekitar 86 miliar neuron. Peneliti percaya bahwa neurogenesis atau pembentukan neuron baru berhenti tak lama setelah kelahiran. Saat ini, dipahami bahwa otak memiliki kapasitas luar biasa untuk mengatur kembali jalurnya, menciptakan koneksi baru, dan dalam beberapa kasus bahkan membuat neuron baru. Konsep ini yang disebut neuroplastisitas, atau plastisitas otak.

Baca juga: Kurang Tidur Bisa Sebabkan Memori Otak Sulit Bekerja Baik

Ada dua jenis neuroplastisitas, termasuk:

Cara kerja plastisitas otak
Beberapa tahun pertama kehidupan seorang anak adalah masa pertumbuhan otak yang cepat. Saat lahir, setiap neuron di korteks serebral memiliki sekitar 2.500 sinapsis, pada usia tiga tahun, jumlah ini telah berkembang menjadi 15.000 sinapsis per neuron.

Namun, rata-rata orang dewasa memiliki sekitar setengah jumlah sinapsis. Mengapa? Karena ketika kita mendapatkan pengalaman baru, beberapa koneksi diperkuat sementara yang lain dihilangkan. Proses ini dikenal sebagai pemangkasan sinaptik.

Baca juga: Mempelajari Bahasa Asing Tunda Proses Penuaan Otak

Neuron yang digunakan sering mengembangkan koneksi yang lebih kuat dan yang jarang atau tidak pernah digunakan akhirnya mati.

Dengan mengembangkan koneksi baru dan memangkas yang lemah, otak mampu beradaptasi dengan lingkungan yang berubah.

Karakteristik kunci
Ada beberapa karakteristik neuroplastisitas yang menentukan.

Usia dan lingkungan cukup berperan
Sementara plastisitas terjadi sepanjang hidup, beberapa jenis perubahan lebih dominan selama usia hidup tertentu. Otak cenderung berubah banyak selama tahun-tahun awal kehidupan, misalnya, ketika otak yang belum matang tumbuh dan mengatur dirinya sendiri. Secara umum, otak muda cenderung lebih sensitif dan responsif terhadap pengalaman daripada otak yang jauh lebih tua.

Genetika juga dapat memiliki pengaruh. Interaksi antara lingkungan dan genetika juga berperan dalam membentuk plastisitas otak.

Proses yang berlangsung
Plastisitas terus berlangsung sepanjang hidup dan melibatkan sel-sel otak selain neuron, termasuk sel glial dan vaskular. Ini dapat terjadi sebagai hasil dari pembelajaran, pengalaman, dan pembentukan memori, atau sebagai akibat dari kerusakan otak.

Sementara orang-orang dulu percaya bahwa otak berhenti berkembang setelah usia tertentu, sedangkan penelitian yang lebih baru telah membuktikan bahwa otak tidak pernah berhenti berubah dalam menanggapi setiap pembelajaran dan pengalaman baru.

Dalam kasus kerusakan otak, seperti selama stroke, area otak yang terkait dengan fungsi tertentu mungkin rusak. Akhirnya, bagian otak yang sehat dapat mengambil alih fungsi-fungsi itu dan kemampuannya dapat dipulihkan. *

Editor: Ade Irwansyah

Exit mobile version