Find Us on Facebook

Instagram Gallery

Configuration error or no pictures...

SKILLS.ID

Subscribe to Our Channel

Monday, September 21, 2020
redaksi@topcareer.id
Tren

IATA Perkirakan Perjalanan Udara Baru Pulih di 2024

Sumber foto: INACA

Topcareer.id – International Air Transport Association (IATA) memangkas perkiraan pemulihan bisnis perjalanan udara pasca pandemi-corona.

Menurut IATA, proses ini memakan waktu hingga 2024, setahun lebih lama dari yang diperkirakan sebelumnya, termasuk untuk kembalinya lalu lintas penumpang ke fase sebelum krisis.

Dikutip dari laman Reuters, dalam sebuah pembaruan tentang dampak pandemi yang melumpuhkan perjalanan udara, IATA menilai penanganan virus yang lambat di Amerika Serikat dan negara-negara berkembang, serta prediksi lemahnya perjalanan korporat, menjadi penyebab pemangkasan perkiraan itu.

IATA menambahkan, hambatan perjalanan dan pembatasan yang barudiberlakukan di beberapa pasar juga membebani prospek jangka pendek. Hal itu juga memangkas perkiraan jumlah penumpang 2020 turun menjadi 55%, lebih tajam dari penurunan 46% yang diperkirakan pada bulan April.

“Paruh kedua tahun ini akan terjadi pemulihan lebih lambat dari yang kami harapkan,” kata Kepala Ekonom IATA Brian Pearce.

Baca juga: Angkasa Pura II Catat Lalu Lintas Penerbangan Berangsur Pulih

Menurut data dari IATA, jumlah penumpang Juni turun 86,5% tahun-ke-tahun, setelah kontraksi 91% pada Mei.

Menurut Pearce, langkah mengejutkan dari Inggris untuk mengkarantina pengunjung dari Spanyol telah menciptakan banyak ketidakpastian. “Itu jelas akan menjadi masalah dengan pemulihan.”

Melemahnya prospek pemulihan dari negara-negara berkembang ini mewakili sekitar 40% perjalanan udara global.

Direktur Jenderal Asosiasi Maskapai Penerbangan Asia Pasifik Subhas Menon mengatakan, perjalanan internasional tidak mungkin pulih secara signifikan, tanpa adanya harga wajar terkait aturan pengujian.

Seperti kita ketahui, aturan pengujian saat ini bisa memakan biaya ratusan dolar.

“Kami membutuhkan nasihat dari para ahli kesehatan masyarakat tentang bagaimana cara melakukannya. Jika itu cukup murah, mungkin kamu bisa mengharapkan pelancong membayar untuk itu. Tapi, saat ini biayanya cukup menakutkan,” kata Menon, Rabu (29/7/2020).

Baca juga: IATA Perkirakan Maskapai Penerbangan Kehilangan USD 84 Miliar pada 2020

Perjalanan bisnis juga dapat menghadapi penurunan yang berkelanjutan, mengancam keuntungan maskapai penerbangan jarak jauh ketika klien-klien perusahaan mengendalikan pengeluaran dan memanfaatkan lebih banyak konferensi video.

“Masih akan dilihat apakah kita mampu mengalami pemulihan pola perjalanan bisnis sebelum krisis. Kekhawatiran kami adalah bahwa kami tidak akan melakukannya,” kata Pearce.(Feb)

Leave a Reply