TopCareerID

Vietnam dan Indonesia Lakukan Video Meeting Paling Sering Saat WFH

Topcareer.id – Bagi banyak orang di masa pandemi ini, rumah memunculkan peran sebagai markas pusat. Semua dilakukan di rumah, termasuk bekerja. Video layanan konferensi menjadi hal krusial dalam menjaga kedekatan dan memberikan koordinasi yang lebih besar.

Menurut studi dari Blackbox Research yang bermitra dengan Toluna, secara regional hampir empat dari sepuluh pekerja di ASEAN (39%) menyatakan bahwa mereka sekarang menggunakan layanan konferensi video 1-2 kali seminggu sementara proporsi yang sama (37%) menyatakan bahwa mereka menggunakan konferensi video 3 kali atau lebih dalam seminggu.

Video penggunaan konferensi tertinggi di Vietnam (84%) dan Indonesia (79%) dengan tingkat adopsi cenderung meningkat di mana video menjadi norma dan pengertian baru kolega dan kedekatan klien bisa dipelihara dari kejauhan.

Baca Juga: 5 Item Pakaian yang Perlu Dihindari Saat Meeting Video Lewat Zoom

“Fenomenan bekerja dari rumah telah menimbulkan pertanyaan yang sangat valid: apakah ini perubahan sementara dalam perilaku pekerja atau perubahan yang akan tetap ada selama jangka panjang?” Tulis laporan yang berjudul ‘Into the Light: Understanding What has Changed for the ASEAN Consumer During COVID-19.’

Hampir empat dari sepuluh pekerja (39%) menyatakan bahwa mereka hanya akan kembali ke kantor setelah beberapa saat dan kapan mereka merasa aman untuk kembali.

Sementara sekitar satu dari sepuluh (11%) menyatakan akan hanya nyaman melakukannya bila ada pengobatan yang andal untuk Covid 19.

“Akibatnya, sekarang hampir enam dari sepuluh negara bagian mereka enggan kembali ke kantor, menunjukkan untuk bisnis bahwa jika karyawan akan kembali ke tempat kerja, maka mereka tidak hanya membutuhkan jaminan tetapi juga insentif,” tulis temuan itu.

Hal ini diperkuat dengan temuan bahwa lebih dari sepertiga pekerja (37%) menyatakan mereka akan kehilangan kemampuan untuk bekerja secara eksklusif dari rumah begitu kehidupan berjalan kembali ke normal. Ini paling menonjol di Malaysia (42%) dan Filipina (40%).

Studi yang rilis pada pertengahan September ini menganalisis sentimen, ekspektasi, dan perilaku terkini dari 4.780 konsumen di enam pasar ASEAN.**(RW)

Exit mobile version