Find Us on Facebook

Instagram Gallery

Configuration error or no pictures...

SKILLS.ID

Subscribe to Our Channel

Tuesday, October 27, 2020
redaksi@topcareer.id
Tren

7 Mitos Seputar Vaksin yang Harus Kamu Tahu (Bagian 2)

Topcareer.id – Saat ini, keberadaan vaksin Covid-19 yang dapat menangkal virus corona tengah dinanti-nantikan jutaan rakyat Indonesia.

Mereka pun berharap dapat langsung melakukan imunisasi ketika vaksin itu tiba. Namun, tidak sedikit juga orang yang justru enggan menjalani imunisasi akibat kabar miring yang beredar tentang vaksin itu sendiri.

Dikutip dari laman Covid19.go.id pada Selasa (13/10/2020), dokter spesialis anak, Windhi Kresnawati pun mengungkapkan fakta seputar mitos vaksin yang beredar luas di masyarakat.

Bagian akhir dari artikel.

Vaksin sebabkan autisme

Windhi memastikan bahwa tidak ada kaitannya antara kandungan vaksin terhadap autisme pada anak. Di mana Thimerosal merupakan salah satu kandungan vaksin yang sempat dituduh memicu autisme pada anak, ternyata berfungsi sebagai pengawet vaksin.

Amerika Serikat pernah menghapuskan kandungan thimerosal pada tahun 1999 karena takut bahwa kandungannya bisa memicu autisme. Tapi faktanya, setelah thimerosal dihapuskan, angka autisme di Amerika Serikat tidak turun.

“Angka autis malah naik. Artinya tidak ada hubungan antara autis dengan thimerosal,” kata Windhi.

Baca juga: Menko: 30 Juta Vaksin Covid-19 Sudah Meluncur Ke Indonesia

Vaksin mengandung sel janin aborsi

Menurut Windhi, virus memang perlu inang berupa sel hidup untuk bisa bertahan dan berkembang biak. Nah, dalam pembuatan vaksin, virus ini akan menginfeksi sel hidup itu dan diproduksi berulang-ulang selama bertahun-tahun dengan meninggalkan sel awal. Sedangkan yang diambil sebagai komponen vaksin, adalah bagian dari virus atau virusnya tersendiri.

“Jadi, kalau ada yang bilang ada sel janin yang digunakan, itu terjadi pada tahun 1960-an, di mana digunakan secara legal untuk membuat vaksin dan itu sekali saja proses yang terjadi. Lantas apakah dalam vaksin ada sel janin? Jawabannya, hanya ada hasil produknya, yakni berupa virusnya saja,” kata Windhi.

Penyakit yang sudah ada vaksinnya, tak perlu vaksinasi lagi

Banyak riset menunjukkan bahwa penurunan angka vaksinasi memicu kenaikan penyakit spesifik yang dilawan vaksin tersebut. Hal ini sempat terjadi di Indonesia pada medio akhir 2017 lalu. Awalnya, wabah difteri terjadi di Jawa dan merambah ke Sumatra. Kemudian, pemerintah pun memutuskan untuk melakukan imunisasi nasional dan menggratiskan imunisasi difteri hingga usia 19 tahun.

“Di AS juga terjadi, tahun 2018 angka imunisasi turun dan muncul lagi. Polio sempat muncul kembali di Papua, padahal kita pernah dapat bendera bebas polio dari WHO. Campak rubella masih mengancam karena banyak hoaks tadi. Jadi hati-hati, kalau angka mulai turun dan kita hadapi wabah ini sangat menderita,” jelas Windhi.

Baca juga: Begini Syarat Jadi Relawan untuk Pengujian Vaksin Covid-19

Vaksin Haram

Windhi menyampaikan bahwa isu ini hanya terjadi di Indonesia. Bahkan di Timur Tengah dengan negara berpenduduk mayoritas Muslim, pro kontra terhadap kehalalan vaksin tidak terjadi.

“Dan peserta haji wajib divaksin. Makanya saya bilang lucu, kenapa di kita doang. Jadi pemicunya ada Trypsin yang dipinjam dari enzim babi untuk hasilkan panen yang baik. Supaya dapat komponen vaksin,” kata Windhi.

Lebih lanjut Windhi menjelaskan, masyarakat perlu memahami bahwa tidak ada bagian babi yang masuk dalam vaksin, karena enzim ini akan dimurnikan kembali sehingga komponen perantara tidak ikut masuk pada vaksin. Ketika dalam proses pembuatannya bersinggungan dengan enzim dari babi, pada produksi akhir, hanya virus yang masuk dalam vaksin.

“Seandainya tetap tidak mau. Karena bersinggungan, kita merujuk negara lain yang maju, yang mayoritas Muslim dan MUI yang sudah sampaikan halal. Untuk kebaikan dan dalam keadaan mencegah penyakit yang lebih berat dan berbahaya, vaksin halal,” pungkasnya.**(Feb)

the authorSherley Agnesia

Leave a Reply