TopCareerID

5 Mitos Produk Susu yang Dibantah Para Ilmuwan

Foto: Freepix

Topcareer.id – Ilmuwan dunia pernah mempertanyakan sebuah penelitian yang menunjukkan bahwa susu coklat dapat bermanfaat bagi remaja untuk pulih dari gegar otak.

Tidak mengherankan, ternyata penelitian tersebut didanai oleh industri susu. Selama beberapa dekade, pemasar susu telah menyebarkan informasi yang bisa dikatakan kurang sesuai tentang manfaat kesehatan dari produk susu.

Bukan berarti produk susu tidak bermanfaat, susu tetap memiliki kebaikan untuk kesehatan pada poin-poin tertentu. Namun ada juga beberapa mitos dari produk susu yang diklaim tidak benar.

Baca Juga: Studi: Susu Coklat Terbukti Lebih Ampuh Pulihkan Otot Dibandingkan Minuman Energi

Berkat gencar dan kreatifnya marketing produk susu, beberapa mitos tentang susu telah tertanam dalam budaya. Tetapi sains tidak mendukung mereka. Mari lihat lima klaim umum ilmuwan tentang produk susu:

Mitos 1: Susu membangun tulang yang kuat
Hubungan susu dan kesehatan tulang adalah salah satu mitos susu yang paling tersebar luas. Satu studi Harvard skala besar memiliki peserta sebanyak 72.000 wanita selama dua dekade dan tidak menemukan bukti bahwa minum susu dapat mencegah patah tulang atau osteoporosis.

Studi lain terhadap lebih dari 96.000 orang menemukan bahwa semakin banyak susu yang dikonsumsi pria saat remaja, semakin banyak pula patah tulang yang mereka alami saat dewasa. Demikian pula, penelitian lain lagi menemukan bahwa remaja perempuan yang mengonsumsi kalsium paling banyak, sebagian besar dalam bentuk produk susu, berisiko lebih besar mengalami patah tulang daripada mereka yang mengonsumsi lebih sedikit atau cukup kalsium.

Mitos 2: Minum susu bisa membantu menurunkan berat badan
Meskipun pengiklan produk susu ingin kamu percaya bahwa minum susu dapat membuatmu langsing, penelitian secara konsisten menunjukkan bahwa produk susu tidak menawarkan manfaat untuk pengendalian berat badan. Satu studi besar bahkan menemukan bahwa produk susu dapat menyebabkan penambahan berat badan. Pada tahun 2005, Komite Dokter di AS mengajukan petisi kepada komisi perdagangan (FTC) untuk segera menghentikan kampanye menyesatkan industri susu tentang susu dan pengendalian berat badan. Sebagai tanggapannya, pemerintah AS tidak lagi mengizinkan kampanye iklan yang mengklaim bahwa produk susu bisa menyebabkan penurunan berat badan.

Mitos 3: Susu adalah makanan alami yang sempurna
Susu sapi mungkin ideal untuk membesarkan bayi sapi, tetapi susu sapi jauh dari makanan yang sempurna bagi manusia. Lebih dari 60 persen orang tidak toleran laktosa, yang dapat menyebabkan gejala tidak nyaman seperti kram, diare, dan kembung. Konsumsi produk susu secara teratur juga dikaitkan dengan kanker prostat, kanker paru-paru, kanker payudara, dan kanker ovarium.

Mitos 4: Anak-anak membutuhkan susu agar sehat
Setelah bayi disapih dari ASI atau susu formula, mereka tidak memerlukan jenis susu apa pun agar sehat. Konsumsi susu berlebihan selama masa kanak-kanak bahkan telah dikaitkan dengan colic (tangisan berkepanjangan dan intens atau kerewelan pada bayi yang sehat) dan diabetes tipe 1. Studi lain tidak menemukan bukti bahwa susu rendah lemak berperan dalam mencegah obesitas pada masa kanak-kanak.

Mitos 5: Susu menyehatkan jantung
Susu dan produk susu lainnya adalah sumber utama lemak jenuh yang menyumbat arteri. Produk susu juga mengandung kolesterol makanan. Diet tinggi lemak, lemak jenuh, dan kolesterol meningkatkan risiko penyakit jantung, yang menjadi pembunuh utama manusia di Amerika Serikat.**(RW)

Exit mobile version