TopCareerID

Kacau, Singapore Airlines Rugi Rp 36 Triliun Selama 6 Bulan Imbas Pandemi

Dok/Asiatimes

Topcareer.id – Akibat pandemi yang terus mengurangi permintaan perjalanan udara, Singapore Airlines harus telan pil pahit. Pada Jumat (6/11/1010,) maskapai penerbangan ini melaporkan kerugian bersih hingga SGD 3,46 miliar atau sekitar Rp 36,30 triliun, selama enam bulan hingga September.

Maskapai ini mengalami kerugian bersih sebesar SGD 2,34 miliar selama tiga bulan hingga September, hasil kuartalan terburuk yang pernah ada, menyusul kerugian bersih SGD 1,12 miliar pada kuartal April hingga Juni.

Mengutip Nikkei Asia, sebagian besar kerugian berasal dari biaya penurunan nilai SGD 1,33 miliar pada pesawat tua. Perusahaan akan melepas 26 dari 222 pesawatnya, menurut perusahaan dalam sebuah pernyataan.

Dengan tidak adanya rute domestik, maskapai andalan negara kota itu adalah salah satu maskapai penerbangan yang paling terpukul di Asia.

Singapura secara bertahap membuka kembali perbatasannya untuk membantu industri transportasi yang terkepung, yang sangat penting bagi peran negara tersebut sebagai pusat Asia Tenggara. Namun, permintaan perjalanan penumpang tetap lemah.

Baca juga: Singapore Airlines Sulap Jet Airbus SE A380 Menjadi Restoran

Selama tiga bulan hingga September, grup Singapore Airlines, termasuk SilkAir dan maskapai berbiaya rendah Scoot, mengangkut 98,8% lebih sedikit penumpang dibandingkan tahun sebelumnya. Volume kargo dan mail turun 44%, mengakibatkan pendapatan untuk kuartal terakhir turun lebih dari 80% dari tahun sebelumnya.

Saat ini, 143 dari 222 pesawat penumpang dan kargo maskapai tersebut di-parkirkan tak bisa terbang. Maskapai ini mengoperasikan penerbangan antara Singapura dan 43 tujuan secara global pada akhir September, naik dari 32 pada bulan Juni.

Meski merugi besar, posisi keuangan Singapore Airlines tetap kuat, karena telah mengumpulkan SGD 11,3 miliar melalui penjualan saham baru, yang didukung oleh investor negara dan pemegang saham utama Singapura, Temasek Holdings, serta kegiatan pembiayaan lainnya.

“Grup terus mencari cara tambahan untuk memperkuat kelanjutan selama periode ketidakpastian ini.  Kami memiliki persetujuan dari pemegang saham untuk mengumpulkan dana tambahan hingga SGD 6,2 miliar melalui obligasi konversi,” kata perusahaan.

Singapore Airlines mengatakan pemulihan dari pandemi kemungkinan akan tetap tidak merata, mengingat gelombang baru infeksi di seluruh dunia dan kekhawatiran tentang kasus impor. “Tetapi, siap dengan cepat dan tegas mengambil semua peluang, dan menanggapi setiap perubahan buruk yang mungkin timbul,” tambah mereka.**(Feb)

Exit mobile version