Find Us on Facebook

Instagram Gallery

Configuration error or no pictures...

SKILLS.ID

Subscribe to Our Channel

Wednesday, December 2, 2020
redaksi@topcareer.id
Tren

Strategi Kemdikbud Lancarkan Proses Pembelajaran Jarak Jauh di Masa Pandemi

Topcareer.id – Pandemi membuat setiap orang harus mampu beradaptasi dengan cepat, termasuk dalam sistem pembelajaran online. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) pun melancarkan sejumlah strategi agar masyarakat bisa beradaptasi lebih cepat dalam proses pembelajaran jarak jauh (PJJ).

“Situasi ini memaksa kita berupaya lebih cepat mengoptimalisasi cara-cara baru, termasuk (memanfaatkan) teknologi digital,” ucap Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Balitbang dan Perbukuan, Kemendikbud, Totok Suprayitno dalam siaran persnya.

Penyederhanaan kurikulum dengan memprioritaskan pengajaran materi esensial dilakukan sebagai upaya untuk memfasilitasi guru ketika mengajar di masa pandemi.

Baca Juga: Reaksi Ibu Dampingi Anak Belajar Online, dari Curhat sampai Ngomel di Grup WA

Masih menurut Totok, pihaknya selalu terbuka menerima masukan perbaikan agar Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) dapat berjalan semakin baik.

“Untuk Belajar Dari Rumah (BDR) juga kita terbitkan modul-modul untuk siswa, guru, dan orang tua untuk semua jenjang. Apalagi, jenjang dasar ternyata paling sulit belajar dari rumah,” tutur Totok.

Peneliti Madya Puslitjak Balitbang dan Perbukuan, Kemendikbud, Meni Handayani menyebut, para guru juga menilai positif dengan adanya modul-modul dari Kemendikbud. Tapi angka ini cenderung turun di daerah tertinggal.

“Sebanyak 65% pengguna kurikulum darurat mengetahui modul belajar literasi dan numerasi. Namun, sebagian besar guru di daerah tertinggal masih terkendala mengakses modul,” kata Meni.

Baca Juga: Belajar Online, Bocah 12 Tahun Jalan 1,6 KM demi Sinyal Internet

Menyikapi temuan tersebut, Meni mengatakan perlunya menggiatkan sosialisasi kurikulum dan modul belajar di daerah tertinggal dengan melibatkan organsiasi lokal seperti LSM, mitra pembangunan, media lokal, dan kampus. Selain itu, penyaluran modul agar sampai ke guru-guru juga harus makin intensif, bisa diberikan lewat dinas pendidikan dan kepala sekolah.

Kolaborasi dan Praktik Baik Warga Pendidikan dalam PJJ

Head of Education Yayasan Sayangi Tunas Cilik, Imelda Usnadibrata menemukan fakta bahwa 8 dari 10 anak mengatakan tidak bisa mengakses bahan belajar yang memadai. Sementara itu, 7 dari 10 orang tua dan 73% anak menyatakan (selama pandemi) mereka belajar jauh lebih sedikit.

“Ini lebih rendah dari angka global yaitu 83%. Selain itu, 1 dari 4 orang tua mengaku guru tidak memantau anaknya. Ini juga lebih rendah dari angka global 66%. Di sisi lain, secara global, harapan orang tua dan anak agar anak-anak kembali ke sekolah, justru semakin menurun,” kata Imelda.

Oleh karena itu, Yayasan Sayangi Tunas Cilik sebagai elemen organisasi masyarakat sipil yang peduli isu pendidikan, berinisiatif membantu pemerintah dalam hal mensukseskan PJJ. Pihaknya mencetak dan menyebarluaskan modul-modul yang sudah dibuat Kemendikbud.

“Kami buat Program Guru Kunjung di beberapa provinsi juga, jadi tiap guru bertanggungjawab terhadap 3 sampai 5 anak, dan berkunjung ke rumah anak. Tapi tentunya, ini harus dengan menjaga protokol kesehatan agar tidak menimbulkan kasus baru,” tutur Imelda.

Praktik baik lainnya adalah “Komitmen Jam Belajar” di Provinsi Sulawesi Tengah. Yayasan bekerja sama dengan kepala desa, orang tua, tokoh masyarakat, dan para pemuda desa, untuk meyakinkan bahwa orang tua benar-benar berkomitmen mengajar anak di rumah dengan jam yang sudah disepakati.

“Kami juga coba guru mengajar lewat siaran radio di NTB dan NTT dan ini cukup efektif,” tambahnya.

Ahli Pembelajaran dari Tanoto Foundation, Muhammad Khundhori pada kesempatan ini juga mengemukakan beberapa praktik baik yang dilakukan pada Daerah Mitra “Program Pintar” Tanoto Foundation. Berdasarkan pengalaman, dukungan orang tua adalah kunci keberhasilan dalam PJJ.**(RW)

Leave a Reply