Topcareer.id – Pandemi COVID-19 menciptakan kerusakan ekonomi mulai dari yang skala kecil hingga besar, bahkan rata di segala sektor. Pandemi juga memukul keras jutaan pelaku ekonomi kecil, seperti usaha ultra mikro di mana pelakunya didorong oleh motif untuk bertahan hidup.
Meski pandemic memukul keras usaha ultra miro ini, menurut laporan Institute for Demographic and Poverty Studies (IDEAS), secara umum mereka tidak benar benar menurunkan intensitas kerjanya terlebih menutup usaha.
“Temuan lapangan kami menunjukkan bahwa usaha ultra mikro tidak banyak menurunkan jam kerjanya selama pandemi,” tulis laporan tersebut yang berjudul ‘Usaha Ultra Mikro Perkotaan: Bertahan di Pusaran Wabah.’
Dari laporan tersebut diketahui, rata rata jam kerja responden usaha ultra mikro hanya sedikit menurun di era pandemic, yaitu rata rata 11,67 jam per hari dibandingkan dengan sebelum pandemi rata-rata 12,07 jam per hari.
Usaha ultra mikro memiliki jam kerja yang sangat panjang jauh di atas jam kerja normal, yang bahkan tidak banyak menurun di era pandemi. Tidak hanya jam kerja yang panjang usaha ultra mikro juga harus bekerja nyaris setiap hari.
Sebagaimana jam kerja, pandemi tidak banyak berpengaruh pada hari kerja usaha ultra mikro yang hanya sedikit menurun dari rata rata 6,65 hari per pekan menjadi rata rata 6,28 hari per pekan.
Baca juga:
“Secara keseluruhan jam kerja responden usaha ultra mikro menurun dari rata rata 80,3 jam per pekan menjadi rata rata 73,3 jam per pekan namun tetap jauh di atas jam kerja normal 40 jam per pekan,” tulis laporan yang rilis pada Rabu (13/1/2021).
Kelompok ekonomi lemah tidak pernah memiliki kemewahan untuk tidak bekerja bahkan ketika pandemi menghantui. Usaha mandiri dengan pekerja tunggal solo self employment adalah status transisi antara bekerja dan menganggur.
“Usaha ultra mikro adalah pengusaha yang didorong oleh motif untuk bertahan hidup kebutuhan dasar mereka yang mengarahkan bentuk dan perilaku bisnis mereka.”
Menjadi usaha ultra mikro adalah pilihan ekonomi yang tak bisa dihindari untuk bertahan hidup bukan sebuah jenjang karier menuju usaha besar formal atau alternatif menunggu untuk pekerjaan di sektor formal dengan penghasilan tetap yang lebih tinggi.