Find Us on Facebook

Instagram Gallery

SKILLS.ID

Subscribe to Our Channel

Senin, April 19, 2021
redaksi@topcareer.id
Covid-19

Pakar UGM Jelaskan Obat Covid-19 Avifavir yang Dapat EUA dari BPOM

Virus corona COVID-19. (ilustrasi: pexels)

Topcareer.id – Pakar Farmakologi Universitas Gadjah Mada jelaskan mengenai obat avifavir, yakni obat Covid-19 yang telah mendapat surat izin penggunaan darurat (EUA) dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI.

Pakar Farmakologi dan Farmasi Klinik UGM, Prof. Apt. Zullies Ikawati menyampaikan bahwa avifavir merupakan obat Covid-19 buatan Rusia yang berbasis favipiravir. Favipiravir sendiri merupakan obat anti virus untuk mencegah influenza atau anti influenza yang telah dikembangkan Jepang sejak tahun 2004 silam.

Selama pandemi Covid-19 ini, obat tersebut telah dipakai dalam panduan terapi Covid-19 di Indonesia, dan merupakan drug repurposing, yaitu menggunakan obat yang sudah beredar untuk indikasi baru yaitu terapi Covid-19. Obat ini bekerja dengan menghambat produksi RNA virus yang pada gilirannya menghambat replikasi virus.

“Jadi, Avifavir ini bukanlah obat baru. Sebelumnya sudah ada favipiravir yang dikembangkan Jepang sebagai obat antiinfluenza, tetapi masa patennya sudah habis,” kata Zullies, mengutip rilis pers UGM, Senin (29/3/2021).

Baca juga: Pendaftaran Vaksin Gotong Royong Batch 2 Ditutup, Vaksinasi Dimulai Pertengahan April

“Setelah itu, banyak industri farmasi di beberapa negara dunia seperti India, China, juga Rusia memproduksinya dengan brand name yang berbeda dan digunakan untuk COVID, serta mendapatkan emergency use authorization (EUA) di beberapa negara,” jelasnya.

Guru Besar Fakultas Farmasi UGM ini menyampaikan, Avifavir penggunaannya hanya diperuntukkan pada pasien Covid-19 dengan gejala sedang sampai berat sesuai panduan terapi. Selain itu, pemberian avifavir juga harus berdasarkan dengan resep dokter.

Ia menambahkan, Avifavir tidak bisa diperoleh secara bebas di pasaran. Oleh sebab itu, ia mengimbau masyarakat untuk tidak coba-coba mencari obat ini karena ketersediaannya terbatas dan hanya didistribusikan di sejumlah rumah sakit rujukan Covid-19.

“Untuk masyarakat tidak usah coba-coba membeli karena ini tidak dijual bebas dan hanya dipakai bagi pasien Covid-19 sedang dan berat. Jika terinfeksi Covid-19 ikuti saja saran dokter dalam menjalani pengobatan,” ujarnya.

Tinggalkan Balasan