TopCareerID

Tanda-Tanda Komunikasi yang Buruk Di Kantor

Tisp bekerja dengan rekan kantor yang nyebelin.

Ilustrasi. (dok. NYC Offices Suites)

Topcareer.id – Komunikasi yang buruk dapat mengakibatkan kesalahpahaman dan hubungan yang tidak bahagia di tempat kerja.

Dalam bisnis, sering kali terlihat jelas ketika komunikasi seseorang cukup kasar atau menjengkelkan. Itu jelas cara berkomunikasi yang sangat buruk.

Komunikasi yang buruk bisa berbahaya untuk mencapai hasil dalam karier yang sukses. Berikut ini tanda-tandanya.

Berlebihan atau mendominasi
Salah satu tanda terburuk dari cara berkomunikasi yang buruk adalah tidak membiarkan klien berbicara ketika berbicara di telepon atau secara langsung.

Mengoceh dan menyela orang mencirikan gaya komunikasi buruk, dan ini dapat menyebabkan frustrasi lawan bicara.

Akibatnya, poin-poin penting dari diskusi bisa terlewat, dan bisa mengarah pada hasil bisnis yang tidak memuaskan.

Terlalu sedikit bicara
Tidak memberikan detail dan informasi yang cukup, baik tertulis maupun lisan, juga merupakan pertanda komunikasi yang buruk.

Seringkali dalam bisnis, pekerja perlu mendasarkan keputusan dan tindakan mereka pada informasi yang mereka terima dari orang lain.

Mengakhiri panggilan telepon secara tiba-tiba sebelum orang lain sempat mengajukan pertanyaan, atau membalas email dengan tanggapan satu kata atau satu baris merupakan tanda dari cara berkomunikasi yang buruk.

Baca juga: Pentingnya Rumus 3 V untuk Komunikasi yang Sukses

Pernyataan negatif
Tanda lain dari cara berkomunikasi yang buruk adalah membuat pernyataan negatif yang hanya berfokus pada masalah daripada solusi.

Tidak ada bisnis yang dapat solusi dengan cara ini. Berkomunikasi dengan kata-kata negatif dapat membuat orang lain merasa tidak dihargai.

Dengan demikian masalah hanya akan bertambah besar dan rumit hanya karena cara berkomunikasi yang buruk.

Mengendalikan
Tanda dari jenis komunikasi yang buruk ini adalah pernyataan yang berawal dengan kata atau kalimat perintah.

Jenis komunikasi pengendali atau variasi pasif-agresif ini dapat membuat orang lain merasa didominasi.

Mereka bisa merasa termanipulasi dengan cara yang tidak jelas, atau terintimidasi.

Contoh lain dari mengendalikan komunikasi adalah ketika seorang pekerja tidak senang dengan rekan kerja.

Dia akan secara pasif menghindari menangani masalah secara langsung, tetapi sebaliknya secara agresif menggosipkan rekan kerja di belakang punggungnya.**(Feb)

Exit mobile version