Find Us on Facebook

Instagram Gallery

Configuration error or no pictures...

SKILLS.ID

Subscribe to Our Channel

Sabtu, Juli 24, 2021
redaksi@topcareer.id
Covid-19

WHO: Delta Jadi Varian Covid-19 Dominan Secara Global

varian covid-19Ilustrasi virus corona. (dok. BBC)

Topareer.id – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut bahwa varian Delta di mana merupakan varian Covid-19 yang sangat menular dan pertama kali diidentifikasi di India, kini menjadi jenis penyakit dominan di seluruh dunia.

“Itu karena peningkatan penularannya secara signifikan,” kata Kepala Ilmuwan WHO, Dr. Soumya Swaminathan, dalam konferensi pers di markas besar badan tersebut di Jenewa, dikutip CNBC, Jumat (18/6/2021).

Studi menunjukkan bahwa varian delta sekitar 60% lebih mudah menular daripada alfa, varian yang pertama kali diidentifikasi di Inggris yang lebih menular daripada jenis asli yang muncul dari Wuhan, Cina, pada akhir 2019.

“Situasi global sangat dinamis karena varian yang beredar,” tambahnya.

WHO menyampaikan pada Rabu (16/6/2021), varian ini telah menyebar ke lebih dari 80 negara dan terus bermutasi saat menyebar ke seluruh dunia. Sekarang menjadi 10% dari semua kasus baru di Amerika Serikat, naik dari 6% minggu lalu, menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC).

Inggris baru-baru ini mengamatai bahwa varian delta menjadi strain dominan di sana, melampaui alpha, yang pertama kali terdeteksi di negara itu musim gugur yang lalu. Varian delta sekarang membuat lebih dari 60% kasus baru di Inggris.

WHO menyatakan delta sebagai “variant of concern” bulan lalu. Varian dapat diberi label sebagai “of concern” jika terbukti lebih menular, lebih mematikan, atau lebih resisten terhadap vaksin dan perawatan saat ini, menurut organisasi kesehatan.

Baca juga: Vaksin COVID-19 Mana Yang Terbaik? Ini Penjelasannya

Pejabat WHO mengatakan ada laporan bahwa varian delta juga menyebabkan gejala yang lebih parah, tetapi penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengkonfirmasi kesimpulan tersebut. Namun, ada tanda-tanda bahwa strain delta dapat memicu gejala yang berbeda dari varian lainnya.

Swaminathan mengatakan bahwa para ilmuwan masih membutuhkan lebih banyak data tentang varian tersebut, termasuk dampaknya terhadap kemanjuran vaksin Covid.

Perusahaan Jerman CureVac awal pekan ini mengutip varian sebagai salah satu alasan vaksin Covid-nya terbukti hanya 47% efektif dalam uji klinis 40.000 orang.

Analisis dari Public Health England yang dirilis Senin menemukan dua dosis vaksin Pfizer-BioNTech atau AstraZeneca Covid-19 sangat efektif terhadap rawat inap dari varian delta.

“Berapa banyak yang terinfeksi dan berapa banyak yang dirawat di rumah sakit dan sakit parah? Ini adalah sesuatu yang kami perhatikan dengan sangat hati-hati,” ucap Swaminathan.

Tinggalkan Balasan