Find Us on Facebook

Instagram Gallery

Configuration error or no pictures...

SKILLS.ID

Subscribe to Our Channel

Sabtu, Juli 24, 2021
redaksi@topcareer.id
Covid-19

Epidemiolog: Bukan Cuma Varian Delta yang Sebabkan Lonjakan Covid-19

Kasus Positif Covid-19 Meledak, Ini Analisis Epidemiolog UGMVirus corona COVID-19. (ilustrasi: pexels)

Topcareer.id – Beberapa daerah di Indonesia saat ini tengah berjuang lantaran alami tren kenaikan kasus Covid-19. Varian Delta yang diketahui lebih menular disebut sebagai “biang kerok” dari lonjakan kasus di RI. Namun, Epidemilog Universitas Gadjah Mada menyebut lonjakan kasus bukan hanya karena Delta.

Kenaikan tajam kasus positif virus corona ini menurut Epidemiolog UGM, Bayu Satria Wiratama, bukan disebabkan varian baru saja, namun karena masyarakat abai akan protokol kesehatan seperti mencuci tangan, memakai masker, menjaga jarak, menjauhi kerumunan dan membatasi mobilisasi.

Selain itu, pemerintah dinilai masih kurang dalam melaksanakan upaya pemeriksaan dini (testing), pelacakan (tracing) dan perawatan (treatment) atau dikenal dengan istilah 3T.

“Kenaikan wajar karena 3T kurang dan masyarakatnya abai sama 5M,” kata Bayu Satria dikutip dari rilis berita UGM, Senin (21/6/2021).

Bayu menuturkan, naiknya jumlah kasus Covid-19 akhir-akhir ini menyebabkan kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) perlu dievaluasi apalagi masyarakat semakin abai akan protokol kesehatan.

“PPKM mikro harus dievaluasi. Jangan diperpanjang tanpa evaluasi apapun karena kita tidak tahu kendala apa yang menyebabkan gagalnya PPMKM mikro,” ujarnya.

Baca juga: Kasus Covid Sentuh 2 Juta, Pengetatan PPKM Mikro Berlaku Hari Ini

Selain masalah 5M yang tidak dijalankan masyarakat, kata dia, ada peran pemerintah yang kurang terutama soal lawan hoaks dan orang-orang yang suka menyebarkan informasi salah.

Meski kenaikan kasus positif Covid-19 tidak hanya terjadi di Tanah Air, namun beberapa negara yang dulunya dianggap sukses menekan laju covid mengalami hal yang sama. Soal ini Bayu tidak sependapat bahwa kenaikan ini menjadi alasan, sebab kondisi Indonesia dan negara lain berbeda.

“Di Indonesia dari awal pemerintahnya tidak solid, 3T tidak merata dan cenderung kurang semua di banyak daerah. Lalu, masyarakat sering abai, kita lebih parah lagi,” paparnya.

Di samping itu, Bayu Satria menilai varian baru bukan 100% penyebab utama dari naiknya kasus Covid-19 di Tanah Air. Namun kombinasi antara protokol kesehatan yang dilanggar terus menerus melalui pelonggaran disertai varian baru.

Soal munculnya wacana untuk melakukan lockdown untuk menekan laju kenaikan Covid-19, Bayu menyarankan pemerintah pusat dan daerah jangan terburu-buru dalam mengambil suatu kebijakan. Sebab, menurutnya apapun kebijakan yang diambil harus dilakukan dengan mempertimbangkan data yang jelas.

“Harus ada dasar yang jelas dari data maupun lainnya termasuk aspek epidemiologinya. Yang sering terjadi adalah kebijakan diambil tanpa pertimbangan yang jelas kemudian tidak pernah dievaluasi,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan