Find Us on Facebook

Instagram Gallery

SKILLS.ID

Subscribe to Our Channel

Kamis, Januari 27, 2022
redaksi@topcareer.id
Tren

Laporan Ungkap Betapa Beratnya Tahun Pandemi Bagi Para Ibu

Topcareer.id – Pandemi membuat setiap orang merasa berat melalui hari, terutama para ibu di seluruh dunia.

Laporan baru dari Center for Global Development, memperkirakan bahwa di seluruh dunia, wanita usia kerja menghabiskan rata-rata 173 jam pekerjaan perawatan anak tambahan hingga Oktober lalu.

Angka jam kerja yang tak mendapat bayaran itu, hampir tiga kali lipat dari yang dilakukan pria. Itu jumlah perawatan anak yang tidak dibayar, yang selama ini dilakukan oleh wanita.

Pada tahun nonpandemi yang khas, wanita di seluruh dunia menghabiskan sekitar 4,5 triliun jam untuk perawatan anak, dibandingkan dengan sekitar 1,4 triliun jam yang dihabiskan oleh pria, menurut siaran pers yang menyertai laporan tersebut.

“Kami tahu ada kesenjangan, tetapi ketidaksetaraan besar tentang siapa yang memberikan perawatan tidak berbayar sangat mengejutkan,” kata Charles Kenny, seorang rekan senior di Center for Global Development, dalam sebuah pernyataan, dikutip dari HuffPost.

“Beban perawatan yang tidak dibayar terus menumpuk untuk wanita,” ujarnya.

Ketika sekolah dan pusat penitipan anak terus dibuka kembali, beberapa tekanan ekstra yang diberikan pada ibu selama setahun terakhir akan surut, meskipun para ahli berpendapat ini adalah saat untuk perubahan sistemik.

Akses yang tidak memadai ke penitipan anak yang terjangkau tidak hanya berarti banyak perempuan yang tersingkir dari angkatan kerja; itu juga berdampak pada anak-anak di seluruh dunia.

Baca juga: Menparekraf Ingin Indonesia Jadi Pusat Fesyen Muslim Dunia

Diperkirakan 35 juta anak di bawah usia 5 tahun dibiarkan sendirian untuk waktu yang lama karena tekanan pada orang tua untuk bekerja, dan karena mereka tidak memiliki pilihan penitipan anak, menurut UNICEF.

Penulis laporan baru memperingatkan bahwa konsekuensi dari beban ekstra ini pada ibu, bibi, dan saudara perempuan yang turun tangan untuk memberikan perawatan anak tambahan akan melampaui pembukaan kembali sekolah.

Perempuan tidak bisa serta merta langsung terjun kembali ke dunia kerja. Dan dampak emosional dari stres dan tekanan ekstra itu nyata.

Kenny mengatakan, pemerintah di seluruh dunia harus berinvestasi dalam solusi pengasuhan anak yang terjangkau, mudah diakses, dan berkualitas pada tingkat yang sama dengan investasi di infrastruktur penting lainnya yang memungkinkan penciptaan lapangan kerja dan pembangunan ekonomi.

“Jika tidak, kita membatasi potensi dan peluang pengasuhan di seluruh dunia, yang secara tidak proporsional adalah perempuan dan anak perempuan,” pungkasnya.**(Feb)

Tinggalkan Balasan