Find Us on Facebook

Instagram Gallery

Configuration error or no pictures...

SKILLS.ID

Subscribe to Our Channel

Kamis, Juli 7, 2022
redaksi@topcareer.id
Covid-19

Studi: Vaksin Booster Johnson & Johnson Mampu Tingkatkan Antibodi

Booster jadi syarat untuk mudik.Vaksin. Dok/Pharmaceutical Technology

Topcareer.id – Dosis booster vaksin COVID-19 Johnson & Johnson (J&J) secara tajam meningkatkan tingkat antibodi terhadap virus corona.

Hal ini berdasarkan data sementara dari dua uji coba kecil tahap awal, kata perusahaan itu dalam siaran pers, Rabu (25/8).

J&J berada di bawah tekanan untuk menghasilkan bukti apakah suntikan booster akan meningkatkan perlindungan dari vaksin sekali pakainya.

Perusahaan berencana untuk mendiskusikan data tersebut dengan regulator A.S. saat mereka merancang rejimen suntikan booster.

Data awal yang diumumkan melibatkan total 17 orang. Ditemukan bahwa dosis kedua dari vaksin J&J yang diberikan enam bulan setelah yang pertama menghasilkan peningkatan sembilan kali lipat dalam tingkat antibodi yang mengikat dibandingkan yang terlihat 28 hari setelah dosis pertama, kata perusahaan itu.

Perusahaan tidak merilis data apakah dosis kedua vaksinnya meningkatkan tingkat antibodi penetralisir, yang menghalangi virus memasuki sel.

Data tersebut masih dianalisis, kata Dr. Dan Barouch, peneliti vaksin Harvard yang membantu merancang vaksin COVID-19 J&J.

Tidak seperti antibodi penetralisir, antibodi pengikat menandai virus untuk dihancurkan oleh bagian lain dari sistem kekebalan.

Barouch mengatakan peningkatan antibodi pengikat biasanya berkorelasi dengan peningkatan antibodi penetralisir.

Menurut J&J, penelitian yang dirilis itu menunjukkan peningkatan signifikan dalam respons antibodi pengikatan pada peserta berusia 18-55 tahun dan pada mereka yang berusia 65 tahun ke atas.

Baca juga: Hadapi Varian Delta, Vaksin Johnson & Johnson Raih Hasil Menjanjikan

Ringkasan studi sedang diserahkan ke server pracetak MedRxiv sebelum peer review atau publikasi dalam jurnal untuk tinjauan sejawat.

Beberapa ilmuwan telah mengemukakan kekhawatiran bahwa individu yang mendapatkan suntikan J&J akan membutuhkan booster.
J&J mengatakan perusahaan bekerja sama dengan CDC, FDA, Badan Obat-obatan Eropa (EMA), WHO, dan otoritas kesehatan lainnya untuk memberikan suntikan booster dengan vaksin Johnson & Johnson.**(Feb)

the authorRino Prasetyo

Tinggalkan Balasan