Find Us on Facebook

Instagram Gallery

Configuration error or no pictures...

SKILLS.ID

Subscribe to Our Channel

Sabtu, Oktober 23, 2021
redaksi@topcareer.id
SosokTren

Demi Raih Pendanaan, CEO Ini Rela Duduk di Toilet Selama 50 Jam

CEO sekaligus Co-Founder “Who Gives A Crap”, Simon Griffiths.CEO sekaligus Co-Founder “Who Gives A Crap”, Simon Griffiths. (dok. Who Gives A Crap)

Topcareer.id – Simon Griffiths bangga mempublikasikan dirinya habiskan 50 jam di toilet demi membangun perusahaan. CEO sekaligus Co-Founder “Who Gives A Crap” ini cukup puas saat ia meningkatkan dana dan kesadaran untuk startup yang berdampak sosial.

Griffiths adalah sepertiga dari tim pendiri di belakang “Who Gives A Crap,” sebuah perusahaan Australia yang bertujuan untuk meningkatkan sanitasi di negara berkembang dengan menjual produk kebersihan sehari-hari yang berkelanjutan.

Untuk setiap produk yang dijual – seperti kertas toilet andalannya yang terbuat dari 100% bahan daur ulang – perusahaan menyumbangkan 50% dari keuntungannya untuk membangun toilet bagi mereka yang membutuhkan.

Didirikan pada tahun 2012, perusahaan ini terinspirasi setelah Griffiths dan salah satu pendirinya, Jehan Ratnatunga dan Danny Alexander, bekerja dengan organisasi kemanusiaan di seluruh dunia dan menyadari masalah yang masih dihadapi dua miliar orang, yakni tidak memiliki akses ke toilet.

Ketiganya ingin mendukung kebutuhan dasar manusia itu dengan menjual sesuatu yang dibutuhkan semua orang: kertas toilet.

Menurut perusahaan, ide itu datang ke Griffiths saat dia berada di kamar mandi menggunakan kertas toilet. Menjual kertas toilet untuk membuat toilet sepertinya merupakan jawaban yang tepat.

Baca juga: Guru Besar UGM Ini Masuk Daftar 100 Orang Berpengaruh Di Dunia

“Masih ada dua miliar orang tanpa akses ke toilet, itu sebabnya kami menyumbangkan setengah dari keuntungan kami untuk membantu menyediakan akses ke toilet bersih dan air bersih,” kata Griffiths dikutip dari CNBC.

Mengubah crowdfunding

Setelah dua tahun mengembangkan produk yang ramah lingkungan dan nyaman, ketiganya mengumpulkan USD50.000 melalui crowdfunding untuk membayar produksi massal pertama mereka.

Untuk kampanye mereka, Griffiths duduk di kursi toilet di gudang kosong tim dan berjanji melalui live feed bahwa dia tidak akan bangun sampai tim mendapatkan target penuh sebesar USD50.000.

“Saya duduk untuk apa yang saya yakini, dan saya tidak akan bangun sampai saya mendapatkan kertas toilet,” katanya dalam video crowdfunding tim di Indiegogo.

Griffiths menghabiskan 50 jam di toilet, tetapi kampanye itu sukses. Para pendiri mengumpulkan jumlah penuh yang dibutuhkan untuk pesanan massal pertama mereka, mengirimkan produk pertama mereka pada Maret 2013.

Sejak itu, perusahaan telah berkembang ke AS dan Inggris, membuka gudang Eropa pertamanya dan akan diluncurkan di Kanada. Ini juga memperluas jangkauan produknya ke tisu bambu, handuk kertas, dan handuk baru yang dapat digunakan kembali dan dicuci, Dream Cloth.**(Feb)

Tinggalkan Balasan