Find Us on Facebook

Instagram Gallery

Configuration error or no pictures...

SKILLS.ID

Subscribe to Our Channel

Selasa, Juli 5, 2022
redaksi@topcareer.id
Tren

Mengenal Roehana Koeddoes, Wartawan Wanita Pertama Indonesia

Dok/TribunnewsDok/Tribunnews

Topcareer.id – Roehana Koeddoes, yang lahir pada 20 Desember 1884 dan meninggal 17 Agustus 1972 adalah wartawati pertama Indonesia.

Selain menjadi jurnalis, ia juga mendirikan sekolah Kerajinan Amai Setia di Koto Gadang karena beliau sangat senang dengan bidang pendidikan.

Sembari menjalani kesenangannya tersebut, ia juga menyempatkan diri menulis di surat kabar perempuan, Poetri Hindia.

Ketika pemerintah Belanda memberedel media kala itu, Roehana berinisiatif mendirikan media surat kabarnya sendiri.

Roehanna pun mendirikan Soenting Melaju (Sunting Melayu) pada 10 Juli 1912, dan hingga kini tercatat sebagai surat kabar perempuan pertama di Indonesia dengan pemimpin redaksi, redaktur dan penulisnya adalah perempuan.

Jurnalis wanita pertama Indonesia ini merupakan kakak tiri dari Soetan Sjahrir, Perdana Menteri Indonesia yang pertama dan juga mak tuo (bibi) dari penyair terkenal Chairil Anwar.

Beliau memiliki komitmen yang sangat kuat pada bidang pendidikan terutama untuk kaum perempuan.

Ia percaya bahwa diskriminasi terhadap perempuan termasuk kesempatan untuk mendapat pendidikan merupakan tindakan semena-semena dan harus dilawan.

Sekolah Kerajinan Amai Setia yang ia dirikan mengajarkan berbagai keterampilan untuk perempuan seperti keterampilan mengelola keuangan, baca tulis, budi pekerti, hingga pendidikan agama dan Bahasa Belanda.

Namun sayang kisah sukses sekolah kerajinan Amai Setia tak berlangsung lama.

Seorang anak didik Roehanna yang telah dididik hingga pintar menjatuhkannya dari jabatan direktris dengan tuduhan penyelewangan keuangan pada 22 Oktober 1916.

Selesai dari masalah tersebut, Roehanna tak menyerah dan mendirikan sekolah di Bukittinggi dengan nama “Roehana School.”

Ia pun mengelolanya sendiri tanpa minta bantuan siapa pun untuk menghindari permasalahan yang tak diinginkan terulang kembali.

Roehana juga turut membantu pergerakan politik dengan tulisannya yang membakar semangat juang para pemuda saat Belanda meningkatkan tensi serangannya pada kaum pribumi.

Baca juga: Bukan Sarjana Jurnalistik Tapi Mau Jadi Wartawan, Begini Caranya

Wanita hebat ini tak pernah menyerah, bahkan sampai ajalnya menjemput pun dia masih dalam kondisi terus berjuang.

Sebelum meninggal ia sempat merantau ke Lubuk Pakam dan Medan untuk mengajar dan memimpin surat kabar Perempuan Bergerak.

Sepanjang 88 tahun usianya Roehanna mengisi kehidupannya dengan beragam kegiatan yang berorientasi pada pendidikan, jurnalistik, bisnis hingga politik.

Tak heran begitu banyak kiprah yang telah diusung Roehana. Ia menerima penghargaan sebagai Wartawati Pertama Indonesia di tahun 1974.

Bahkan Menteri Penerangan Harmoko menganugerahinya sebagai Perintis Pers Indonesia pada Hari Pers Nasional ke-3 tahun 1987.

Pada tanggal 6 November 2007 pemerintah Indonesia pun turut mengapresiasi sepak terjang Roehanna semasa hidupnya dengan menganugerahkan Bintang Jasa Utama.**(Feb)

the authorRino Prasetyo

Tinggalkan Balasan