TopCareerID

Tantangan Terbesar bagi Anak Pekerja Migran ketika Diasuh Orangtua Pengganti

Ilustrasi Anak anak. Dok/Avopix

Topcareer.id – Menjadi anak dari pekerja migran tentu tidak mudah dan harus melalui banyak tantangan tanpa ada orangtua kandungnya yang mendampingi.

Kebanyakan dari mereka tumbuh menjadi anak pembangkang yang mungkin disebabkan oleh orangtuanya sendiri yang terlalu menuruti keinginan mereka sebagai kompensasi harus ditinggal pergi bekerja di luar negeri.

Ini jelas menjadi tantangan tersendiri bagi para orangtua pekerja migran. Lalu, bagaimana jika anak sudah terlanjur menjadi seperti ini?

Untuk menghadapi tantangan ini, pekerja migran sebagai orangtua harus melihat lebih dulu apakah ini memang berubah sejak diasuh oleh orangtua pengganti atau bukan.

Bisa saja penyebabnya karena situasi tertentu yang membuat anak ini merasa marah, atau mungkin ada sesuatu hal yang disembunyikan.

Orangtua harus bisa melihat dari sudut pandang si anak sambil meregulasi ulang perasaan emosi dan tenangkan diri.

“Coba tanyakan apa yang anak inginkan, karena mungkin saja perilaku membangkangnya karena dia tidak pernah merasa didengarkan sejak ditinggal orangtuanya ke luar negeri.” ujar Psikolog Klinis Emeldah Suwandi dalam sebuah Webinar Migrant Talk bertajuk Hilangnya Perhatian Pada Anak-Anak Pekerja Migran, Selasa (21/12/2021).

Menurut Emeldah, sebagai tahap awal coba dekati anak dan tanyakan apa mau sang anak? Gali lebih jauh apa maunya, apa, kebutuhannya apa, dan marahnya kenapa?

Yhovita Yuni Indah Sari salah seorang anak dari pekerja migran yang sudah ditinggal pergi orangtuanya bekerja di luar negeri sejak kecil menceritakan dirinya menghadapi tantangan terberat.

“Saya sangat menghindari pertanyaan dari teman di mana orangtua saya dan kenapa tinggal dengan nenek. Dan ketika ibu saya pulang saya merasa seperti bertemu dengan orang asing dan merasa tidak ada kedekatan emosional.” tutur Yhovita.

“Dari hal itu saya belajar untuk mengelola emosi untuk mengerti situasi untuk tidak menuntut dan tidak egois.” tambahnya.

Baca juga: Ini Tantangan Tenaga Kerja Indonesia di Era Industri 4.0

Tantangan lainnya yakni adanya dampak psikologis pada anak ketika orangtuanya yang menjadi pekerja migran selalu memenuhi apapun yang anaknya minta karena merasa kasihan.

“Anak bisa memiliki perilaku tantrum, mudah ngambek. Ini salah satu dampaknya terlalu menuruti permintaan anak,” Kata Emeldah

Menurutnya orangtua bukannya tidak boleh memberi sesuatu pada anak, boleh-boleh saja, namun perhatikan waktunya.

“Ada hal yang harus ditunda dulu dalam memberikan sesuatu untuk anak, perhatikan keseusaian kebutuhan dengan usia anak, jadi anak belajar untuk tidak selalu dipenuhi kemauannya.” Jelas Emeldah

Untuk mengadapi tantangan ini orangtua perlu secara konsisten berdiskusi dengan orangtua pengganti yang merawat anak tentang apa yang akan diberikan untuk anak-anak.

Tidak perlu khawatir jika sudah terlanjur terjadi, semua masih bisa diperbaiki secara perlahan dan bertahap.**(Feb)

Exit mobile version