Find Us on Facebook

Instagram Gallery

Configuration error or no pictures...

SKILLS.ID

Subscribe to Our Channel

Jumat, Mei 20, 2022
redaksi@topcareer.id
Tren

Apple Bukan Lagi Nomor 1, Ini Perusahaan Paling Berharga di Dunia

Apple bukan lagi jadi perusahaan paling berharga di dunia.Ilustrasi: Fortune

Topcareer.id – Apple kini bukan lagi sebagai perusahaan paling berharga di dunia. Saudi Aramco, perusahaan miyak dan gas itu, berhasil mengambil alih Apple sebagai perusahaan paling berharga di dunia.

Lonjakan harga minyak baru-baru ini mendorong raksasa energi tersebut masuki peringkat satu sebagai perusahaan paling berharga. Saudi Aramco sekarang bernilai sekitar USD2,43 triliun, dibandingkan dengan USD2,37 triliun Apple, menurut data dari Refinitiv.

Kapitalisasi pasar sering berfluktuasi: awal tahun ini, Apple (AAPL) mencapai angka USD3 triliun, menjadi yang pertama melakukannya dan menjadikannya perusahaan paling berharga di planet ini.

Aramco pada satu titik juga memegang posisi itu setelah initial public offering (IPO) yang bersejarah pada tahun 2019, yang mendorong penilaiannya menjadi USD2 triliun.

Tetapi pergerakan pasar terbaru menunjukkan bagaimana prospek energi dan produsen teknologi telah berubah akhir-akhir ini.

Tahun ini, harga minyak melonjak ke rekor tertinggi, terutama di tengah kekhawatiran tentang gangguan pasokan dari Rusia sejak invasi ke Ukraina.

Brent crude, patokan global, telah naik sekitar 36% sepanjang tahun ini, dan terakhir diperdagangkan pada 106,2 dolar AS per barel.

Baca juga: Elon Musk Sesumbar Lipatgandakan Pendapatan Twitter Jadi Rp 384,8 Triliun Di 2028

Itu telah mendukung pemain seperti Saudi Aramco, yang sahamnya naik 27% sepanjang tahun ini. Sementara itu, saham Apple telah jatuh lebih dari 17% sejak Januari.

Pembuat iPhone baru-baru ini dibebani oleh masalah rantai pasokan utama, terutama di China, di mana beberapa pabrik pemasoknya untuk sementara terjebak dalam penguncian Covid di negara itu.

Bulan lalu, Apple memperingatkan kerugian besar terkait dengan situasi yang sedang berlangsung, dengan mengatakan bahwa masalah produksi dan logistik dapat memukul penjualannya sebanyak $4 miliar hingga $8 miliar pada kuartal ini.

“Kendala Apple terutama berpusat di sekitar koridor Shanghai,” kata CEO Tim Cook dikutip dari laman CNN.

Dan Ives, direktur pelaksana penelitian ekuitas di Wedbush Securities, menyebut dampak penguncian itu sebagai “albatross untuk kuartal Juni,” mengatakan dalam sebuah laporan bahwa kesengsaraan rantai pasokan Apple di China kemungkinan akan tetap menjadi “kekhawatiran puncak” bagi investor di pasar saham jangka pendek.

Tetapi kekhawatiran mungkin “mereda” pada paruh kedua tahun ini, ketika perusahaan itu diperkirakan akan meluncurkan iPhone 14 baru, tambahnya.

Tinggalkan Balasan