TopCareerID

7 Mitos yang Salah Tentang Introvert dan Ekstrovert (Bagian 1)

Topcareer.id – Introvert benci bersosialisasi, ekstrovert lebih bahagia bersosialisasi, dan ternyata mereka tidak bisa akur? Ah, enggak juga sih. Coba pikirkan lagi.

Untuk menyelami mitos tentang dua kepribadian ini sepenuhnya, harus mulai dari inti apa artinya menjadi ekstrovert atau introvert.

“Introversi dan ekstroversi adalah karakteristik kepribadian dan sering dipengaruhi oleh alam dan pengasuhan. Karena mereka banyak dibahas di kalangan bisnis, sosial, dan hubungan, mereka sering disalahartikan,” kata Dr. Juli Fraga, Psy.D. kepada Healthline.

Ekstroversi dan introversi mengacu pada dari mana orang menerima energi. Ekstrovert diberi energi dengan bersosialisasi dalam kelompok orang yang lebih besar, memiliki banyak teman.

Sementara introvert diberi energi dengan menghabiskan waktu sendirian atau dengan sekelompok teman yang lebih kecil.

Yuk, gali mitos tentang dua kepribadian ini yang harus kamu musnahkan.

Bagian pertama dari artikel:

Hanya ekstrovert yang suka bersosialisasi
Perbedaannya adalah berapa banyak orang yang suka bersosialisasi, bukan satu tipe orang yang tidak ingin bersosialisasi sama sekali.

Orang sering berpikir introvert adalah ‘anti-sosial,’ padahal tidak demikian. mereka menikmati hubungan dan bersosialisasi juga kok, hanya saja tingkat toleransinya yang berbeda untuk seberapa banyak bersosialisasi yang membuat mereka nyaman.

Sebaliknya, ekstrovert dapat dilihat sebagai anak gaul. Memang, ada korelasinya, tetapi ini tidak selalu terjadi.

Introvert tidak mengambil risiko
Ketakutan dan keinginan adalah perbedaan yang sama sekali berbeda dari ekstroversi dan introversi.

Banyak orang menyampaikan informasi yang salah dan dapat menyebabkan rumor menyebar tentang karakteristik kepribadian yang tidak berdasar ini.

Jadi, alih-alih menganggap introvert untuk hal-hal yang berisiko, beri mereka kesempatan untuk mengekspresikan diri dan memilih kegiatan apa yang mereka minati dan apa yang tidak.

Ekstrovert lebih bahagia
Pada dasarnya, memiliki kepribadian yang mana pun adalah tentang kamu memilih cara yang membuat dirimu lebih bahagia.

Jadi, mengapa seseorang membuat kamu merasa lebih baik atau lebih buruk?

Satu-satunya cara seseorang akan merasa lebih sedih adalah jika mereka mencoba untuk bertindak sebagai kebalikan dari siapa diri mereka sebenarnya secara alami.

Merangkul situasi sosial yang secara alami disukai, alih-alih memaksakan diri ke situasi yang terlalu besar atau kecil untuk kamu sukai, adalah hal yang akan membuat kamu bahagia.

Baca juga: Hei Introvert! Gunakan Kekuatan Ini untuk Kemajuan Karier

Seorang introvert lebih cenderung berurusan dengan penyakit mental
Hanya karena seseorang melakukannya dengan baik dalam kelompok besar dan banyak bicara tidak berarti bahwa mereka tidak menghadapi penyakit mental seperti temannya yang lebih pemalu dan pendiam.

Terlalu ngawur untuk menyampaikan bahwa mungkin ada koneksi penyakit mental dengan orang yang pendiam dan kurang bergaul.

Untuk memutuskan seseorang memiliki penyakit mental perlu melihat banyak faktor seperti biologis, trauma masa kanak-kanak, riwayat keluarga, dan temperamen secara keseluruhan.

Exit mobile version