Find Us on Facebook

Instagram Gallery

Configuration error or no pictures...

SKILLS.ID

Subscribe to Our Channel

Sabtu, Desember 3, 2022
redaksi@topcareer.id
Tren

Studi: Pandemi menghambat Kemampuan Komunikasi pada Bayi

bayiIlustrasi. (dok. istimewa)

Topcareer.Id – Terhentinya komunikasi sosial selama bulan-bulan akibat pandemi COVID-19, membuat bayi yang baru lahir, kehilangan tonggak komunikasi penting.

Sebuah studi baru di Irlandia menemukan sekitar 25% dari bayi-bayi yang baru lahir, menghabiskan satu tahun tanpa pernah bertemu dengan anak seusia mereka.

Akibatnya, interaksi insidental dengan orang asing dan anggota komunitas di toko kelontong atau kelompok bermain pun tidak terjadi.

“Mereka jarang memiliki kesempatan untuk melambai “bye-bye.” Tapi itu bukan alasan bagi orang tua untuk khawatir,” kata penulis utama studi Dr. Susan Byrne, seorang dosen senior di bidang pediatri dan kesehatan anak di Royal College of Surgeons di Dublin, Irlandia.

“Bayi sangat tangguh dan, jelas, langkah-langkah pandemi sekarang berkurang sehingga ada banyak peluang bagi mereka untuk keluar dan melihat dunia,”

Untuk studi ini, para peneliti menilai 10 hasil perkembangan, termasuk keterampilan komunikasi, seperti mengungkapkan satu kata yang pasti dan bermakna, menunjuk objek dan melambaikan tangan “sampai jumpa.”

Para peneliti menemukan, perbedaan dalam keterampilan bahasa relatif kecil.

“Apa yang kami katakan adalah bahwa bayi-bayi itu mungkin melihat lebih sedikit orang dan mendengar lebih sedikit kata dan suara,” kata Byrne.

“Dan mereka juga berada di rumah hampir sepanjang waktu, jadi tidak memiliki siapa pun untuk berpamitan karena tidak ada yang datang ke rumah dan tidak ada yang pergi. Begitu juga dengan menunjuk, karena tinggal berbulan-bulan di lingkungan terbatas, kecil kemungkinannya untuk menunjuk sesuatu.”

Baca juga: CDC Peringatkan Bahaya Parechovirus, Ini Bahayanya pada Bayi

Di luar itu, bayi yang lahir saat pandemi memiliki peningkatan yang lebih kuat pada keterampilan lain. Sebagai contoh, mereka lebih mungkin merangkak pada usia 12 bulan daripada rekan-rekan mereka sebelumnya.

Terkait hal ini, Dr. Dipesh Navsaria, profesor pediatri dan perkembangan manusia dan studi keluarga di University of Wisconsin-Madison mengatakan bahwa bayi yang mungkin mengalami beberapa keterlambatan sosial, kemungkinan akan menyusul tanpa banyak kesulitan, karena otak bayi masih sangat lentur.

Navsaria dan Byrne menambahkan, orang tua dapat membantu pertumbuhan itu dengan melibatkan anak-anak dengan cara biasa.

“Melakukan semua hal yang biasanya dilakukan seseorang akan membuat mereka kembali ke sana,” katanya.

Temuan ini dipublikasikan secara online Selasa di Archives of Disease in Childhood.

the authorFeby Ferdian

Tinggalkan Balasan