TopCareer.id – Konsep kuliner keliling kini makin banyak ditemui. Tak cuma kopi, baru-baru ini di media sosial juga viral tentang nasi padang keliling.
Rachmah Ida, Guru Besar Bidang Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Airlangga mengatakan, tren makanan keliling awalnya adalah upaya penjual menjangkau para pekerja yang sulit mendapat tempat makan.
Ia mengatakan, konsep ini menurutnya bagian dari upaya untuk menjemput target market yang mereka inginkan.
Baca Juga: Pahami Bedanya! Fast Food dan Junk Food Tidak Sama
“Mereka tahu ada orang-orang yang tidak bisa mobile, ada orang-orang yang bekerja tetapi di tempat kerjanya itu tidak ada lagi warung,” kata Rachmah, seperti dikutip dari laman resmi Unair, Jumat (29/8/2025).
Konsep food trucks sendiri sebenarnya bukan hal yang benar-benar baru. Dia menganalogikan tren ini seperti pedagang kaki lima yang sudah biasa berkeliling dan akrab dikenal masyarakat sekitar, terutama di Indonesia.
“Jadi sebenarnya yang dilakukan oleh food trucks itu atau mobile kuliner itu sama dengan pedagang-pedagang bakso yang di rumah kita,” kata Rachmah.
Ia menyebut, tren ini bukan sesuatu yang baru. Hanya saja, kendaraannya lebih modern.
Baca Juga: 5 Makanan yang Sebaiknya Dihindari di Usia 40
Terlepas dari inovasi, food trucks atau konsep semacam itu menawarkan biaya operasional yang lebih rendah, serta cenderung lebih efisien ketimbang restoran konvensional.
“Jadi biaya operasionalnya tidak banyak,” kata Rachmah.
“Kalau dia berada atau dia punya warung dia kena pajak, karena pajaknya masuk ke pajak bangunan, tapi food trucks itu tidak kena pajak dan dia mendapatkan income yang langsung. Itu sebuah keuntungan,” imbuhnya.
Tren kuliner keliling saat ini juga tak lepas dari peran media sosial yang menciptakan antusiasme konsumen dengan instan.
Kreator konten juga berperan memviralkan pedagang, membuat massa datang dalam waktu singkat. “Luar biasa memang media sosial itu bisa membentuk subkultur baru pada masyarakat konsumen di Indonesia,” pungkasnya.