TopCareer.id – Sebuah riset mengungkapkan turunnya hobi membaca untuk hiburan sebanyak 40 persen, dalam 20 tahun terakhir. Studi itu dilakukan oleh peneliti dari University of Florida dan University College London.
Riset dimuat di jurnal iScience dan menganalisa data dari lebih dari 236 ribu warga Amerika Serikat (AS), yang mengikuti merican Time Use Survey antara tahun 2003 hingga 2023.
Mereka menemukan hobi membaca untuk hiburan di AS turun lebih dari 40 persen dalam 20 tahun terakhir.
Mengutip laman University of Florida, Sabtu (30/8/2025), temuan ini memunculkan pertanyaan serius tentang dampak budaya, pendidikan, dan kesehatan dari turunnya kebiasaan membaca di masyarakat.
“Ini tak cuma penurunan kecil, ini adalah penurunan yang konsisten sekitar 3 persen per tahun,” kata Jill Sonke, Direktur Inisiatif Riset di UF Center for Arts in Medicine dan Co-Director EpiArts Lab.
Menurut laporan, penurunan yang paling tajam terjadi di kalangan warga kulit hitam dibandingkan kulit putih, masyarakat berpendapatan rendah atau berpendidikan rendah, serta mereka yang tinggal di pedesaan.
Hal ini menunjukkan adanya kesenjangan yang semakin dalam terkait akses dan kebiasaan membaca.
Baca Juga: Mendorong Anak Membaca Komik Ternyata Baik, Ini Alasannya
“Meski orang dengan pendidikan tinggi dan perempuan masih lebih mungkin membaca, bahkan di kelompok ini kami melihat pergeseran,” kata Jessica Bone, Peneliti Senior bidang Statistik dan Epidemiologi di University College London.
Sementara pada kelompok yang masih rutin membaca, waktu yang dihabiskan untuk aktivitas tersebut justru semakin meningkat.
Bone mengatakan, ini mungkin menunjukkan adanya polarisasi, di mana sebagian orang membaca lebih banyak, sementara banyak yang sama sekali berhenti melakukannya.
Temuan lainnya adalah hobi membaca bersama anak yang tidak banyak berubah dalam 20 tahun terakhir.
Namun, aktivitas ini jauh lebih jarang dibanding membaca untuk hiburan, padahal penting untuk perkembangan anak dan ikatan keluarga.
Ada beberapa faktor yang diduga membuat orang AS jadi makin malas membaca, di antaranya maraknya media digital, peningkatan tekanan ekonomi, kurangnya waktu luang, hingga akses yang tidak merata ke buku atau perpustakaan.
“Budaya digital kita jelas menjadi bagian dari ceritanya,” kata Sonke.
Baca Juga: Studi: Mau Panjang Umur? Rajinlah Membaca Buku
Namun, ia menambahkan ada juga masalah struktural, terbatasnya akses ke bahan bacaan, ketidakamanan ekonomi, dan penurunan waktu luang secara nasional.
“Jika Anda bekerja di beberapa pekerjaan atau menghadapi kendala transportasi di daerah pedesaan, perjalanan ke perpustakaan tampaknya tidak memungkinkan,” kata Sonke.
Padahal, membaca tak cuma sebagai sarana pendidikan, tapi juga berguna bagi kesehatan mental, empati, kreativitas, dan pembelajaran yang berkelanjutan.
EpiArts Lab sebelumnya menemukan adanya hubungan antara keterlibatan kreatif dan kesejahteraan.
“Membaca secara historis merupakan cara yang mudah diakses namun berdampak besar untuk terlibat secara kreatif dan meningkatkan kualitas hidup,” kata Sonke.
“Ketika kita kehilangan salah satu alat kesehatan masyarakat yang paling sederhana, itu kerugian yang serius,” dia menambahkan.
Baca Juga: 5 Hal Produktif Yang Bisa Kamu Lakukan Selama Menunggu Panggilan Kerja
Menurut para peneliti, cara efektif untuk mengatasi tren ini adalah mendorong kebiasaan membaca sejak dini.
“Membaca bersama anak adalah salah satu cara yang paling menjanjikan,” kata Daisy Fancourt, Profesor Psikologi dan Epidemiologi di University College London sekaligus Co-Director EpiArts Lab.
Menurut Daisy, ini tak cuma mendukung soal bahasa dan literasi, tapi juga empati, ikatan sosial, perkembangan emosional, dan kesiapan sekolah.
Selain itu, membuat perpustakaan lebih menarik dan mengadakan kegiatan membaca di komunitas juga bisa membantu.
“Melihat penurunan seperti ini mengkhawatirkan karena riset jelas menunjukkan: membaca adalah aktivitas yang meningkatkan kesehatan untuk semua kelompok masyarakat, dengan manfaat seumur hidup,” kata Fancourt.