TopCareer.id – Adanya kasus flu akibat Influenza A (H3N2) subclade K alias “super flu” belakangan jadi kekhawatiran.
Menurut Nurmila, Dosen Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Unismuh Makassar, istilah “super flu” sendiri sebenarnya adalah label yang diberikan oleh media.
“Secara ilmiah yang dibahas adalah H3N2 subclade K dan sampai saat ini, laporan lembaga kesehatan menunjukkan tidak ada bukti kuat bahwa varian ini otomatis lebih mematikan,” kata Nurmila, mengutip laman Unismuh.
Namun, dia mengatakan varian ini bisa membuat kasus meningkat cepat, yang dikhawatirkan akan membuat layanan kesehatan kewalahan.
Terkait gejala, Nurmila mengatakan bahwa Influenza A (H3N2) secara klinis bergejala seperti flu musiman yaitu demam, batuk, pilek, nyeri tenggorokan, sakit kepala, pegal, dan lemas.
Namun, ada kelompok tertentu lebih rentan mengalami kondisi berat seperti anak balita, lansia, ibu hamil, serta orang dengan komorbid atau penyakit bawaan.
Karena itu, orang tua harus menerapkan pencegahan penularan di rumah, serta mengenali tanda-tanda bahaya pada anak.
Baca Juga: Kasus Flu Melonjak, Pakar Ungkap Ada Pengaruh Perubahan Iklim
Pencegahan bisa dimulai dari vaksin influenza tahunan, terutama pada kelompok rentan sesuai rekomendasi dokter.
Selain itu, biasakan cuci tangan dan menerapkan etika batuk-bersin, serta menggunakan masker saat bergejala. Jika sakit, anak lebih baik beristirahat di rumah agar tidak menularkan ke sekolah maupun anggota keluarga lain.
Sementara untuk tanda-tanda bahaya yang harus segera diperiksakan adalah apabila terdapat napas cepat atau sesak disertai tarikan dinding dada atau bibir kebiruan.
Waspadai juga jika anak tampak sangat lemas atau mengalami demam tinggi yang menetap, serta tanda dehidrasi seperti jarang buang air kecil, mulut kering, dan menolak minum.
Tanda bahaya lain yang harus segera diperiksakan termasuk kejang atau penurunan kesadaran.
“Yang sering jadi masalah bukan hanya virusnya, tapi keterlambatan mengenali tanda bahaya dan keterlambatan akses layanan,” kata Nurmila.
Dia juga menegaskan, vaksin influenza masih berguna, terutama untuk menurunkan risiko sakit berat dan rawat inap, meski efektivitasnya bisa bervariasi antar musim.
Baca Juga: Kemenkes: Super Flu Sudah Masuk Indonesia, Gejala Tidak Lebih Parah
Dari sisi kebijakan, langkah antisipasi harus dilakukan dengan memperkuat surveilans influenza dan pemeriksaan genomik pada sampel sentinel, terutama di pintu masuk dan rumah sakit rujukan.
Dengan begitu, kata Nurmila, jika subclade tertentu mulai muncul, pergerakannya dapat cepat terpantau.
Di sisi lain publik juga harus mendapatkan edukasi agar tidak mudah terseret istilah yang menakutkan.
“Kalau masyarakat paham bahwa ini influenza yang bermutasi, bukan ‘virus misterius’, maka responsnya lebih rasional: vaksin, PHBS, dan cepat berobat bila ada gejala berat,” imbuhnya.
Nurmila mengatakan, isu “super flu” harusnya jadi pengingat bahwa influenza bukan penyakit remeh, terutama bagi kelompok rentan.
Kewaspadaan, vaksinasi, dan perilaku hidup bersih, serta keputusan cepat mencari pertolongan saat gejala mengarah pada kondisi berat, tetap menjadi kunci.













