TopCareer.id – Pura-pura bekerja keras meski sebenarnya hampir tidak ada hasil yang harus dicapai alias task masking, sedang jadi tren di kalangan pekerja muda.
Media sosial menyebut bahwa task masking kini jadi salah satu ciri mekanisme koping terbaru dari Gen Z.
Dilansir Financial Times, Rabu (14/1/2026), ada banyak trik melakukan task masking, mulai dari berpindah-pindah tab di Chrome dengan cepat, hingga duduk dengan punggung membungkuk biar terlihat sedang berkonsentrasi tinggi.
Namun, task masking tidak mencerminkan etos kerja Gen Z yang buruk. Sebaliknya, ini adalah upaya putus asa untuk mempertahankan pekerjaan, meski berpura-pura sesungguhnya belum tentu meningkatkan produktivitas.
Amanda Edelman, Chief Operating Officer perusahaan komunikasi Edelman mengatakan, task masking lebih merupakan respon berbasis ketakutan akan tekanan di dunia kerja modern.
Baca Juga: Biaya Hidup Tak Sebanding Gaji Pekerja, Perusahaan Harus Apa?
“Gen Z saling berbicara tentang bagaimana memastikan mereka, pertama, benar-benar seproduktif mungkin, dan kedua, terlihat seproduktif mungkin, agar tidak terkena PHK atau digantikan oleh AI,” ujarnya.
Riset Gen Z Lab Edelman menemukan 37 persen pekerja Gen Z takut kehilangan pekerjaan, angka tertinggi dibanding generasi lain. Sekitar 60 persen juga tidak yakin mendapatkan pekerjaan yang baik tahun 2025.
“Kita perlu memikirkan sejauh mana telah terjadi keretakan kontrak antara generasi muda saat ini dan janji tentang dunia kerja,” kata David Wreford, partner di perusahaan konsultan Mercer.
Karena itu, manajer senior perlu menjembatani jarak dengan pekerja muda, salah satunya dengan memastikan kehadiran fisik di kantor benar-benar bermakna.
Task masking kerap muncul sebagai bentuk perlawanan terhadap budaya presenteeism, yaitu anggapan bahwa hadir di kantor otomatis berarti produktif.
Baca Juga: Studi Australia: Banyak Pekerja Diam-Diam Pakai AI Tanpa Diketahui Bos
Para eksekutif juga perlu melihat fenomena ini sebagai persoalan keterlibatan karyawan, bukan sekadar soal kemalasan.
“Norma kerja tidak bisa ditentukan sepihak. Perlu dialog berkelanjutan antara manajemen dan karyawan,” kata Caitlin Duffy dari Gartner.
Ini termasuk pembicaraan terbuka soal kinerja, target yang jelas, serta dukungan agar karyawan bisa berkembang dan mengambil peran baru.
“Pengakuan atas kontribusi karyawan juga penting, terutama di tengah tuntutan produktivitas yang makin tinggi,” imbuhnya.
Maka dari itu, ketimbang cuma memperhatikan pekerja mudanya sibuk mengetik tanpa henti, atasan bisa mulai bertanya dengan menanyakan soal beban kerja mereka, atau sekadar memastikan kontribusi mereka benar-benar dihargai.













