Find Us on Facebook

Subscribe to Our Channel

https://www.youtube.com/@topcareertv1083

ProfesionalTips Karier

Tawarkan Kerja Fleksibel Meski WFO, Apa Itu Microshifting?

Ilustrasi kerja di mana saja. (Pexels/Vlada Karpovich)

TopCareer.id – Seiring tren kerja dari mana saja yang mulai kembali bergeser ke kerja di kantor atau work from office (WFO), konsep microshifting tampak menjanjikan bagi pekerja.

WFO sendiri kerap dinilai membuat fleksibilitas bagi waktu kerja karyawan pun terasa makin sedikit. Namun, kebutuhan akan pengaturan waktu kerja yang lebih fleksibel tak serta-merta hilang.

Di tengah tuntutan kerja, urusan keluarga, hingga jam perjalanan ke kantor yang panjang, pekerja mulai terus mencari cara agar tetap bisa produktif, tanpa harus mengorbankan keseimbangan hidup.

Di sinilah konsep microshifting berpotensi sebagai solusi untuk memberikan pekerja fleksibilitas, tanpa membuat perusahaan rugi.

Dikutip dari Indeed, Senin (26/1/2026), istilah microshifting diperkenalkan oleh platform video conference Owl Labs dalam laporan 2025 State of Hybrid Work.

Baca Juga: Pekerja Tiba-Tiba Tak Masuk di Hari Pertama Kerja, Apa Itu Career Catfishing?

Konsep microshifting menggambarkan cara kerja dalam blok-blok waktu pendek dan tidak kaku, menyesuaikan energi, tanggung jawab pribadi, dan pola produktivitas masing-masing orang.

Dalam praktiknya, bentuk microshifting bisa berbeda-beda. Misalnya, pekerja keluar kantor selama beberapa jam untuk urusan pribadi, lalu kembali lagi dan menyelesaikan pekerjaan.

Pola ini juga memungkinkan pekerja mengatur sendiri kapan dan bagaimana mereka bekerja, tanpa harus terpaku pada jam kerja 9-5.

Strategi ini pun mendorong keseimbangan antara kerja di kantor dan jarak jauh, tapi dalam durasi yang lebih pendek dibanding sistem kerja hybrid biasa.

“Perdebatan berikutnya bukan lagi di mana kita bekerja, tapi kapan kita bekerja,” kata Loren Margolis, pelatih eksekutif dan pendiri TLS Leaders.

Baca Juga: 7 dari 10 Orang RI Mau Pindah Kerja pada 2025, tapi Kerap Di-Ghosting Perekrut

Data Owl Labs menunjukkan, 65 persen dari 2.000 pekerja penuh waktu di Amerika Serikat tertarik mencoba microshifting.

Minat ini lebih tinggi di kalangan manajer dan caregiver. Menariknya, 64 persen responden yang tertarik microshifting bekerja secara full-time 40 jam per minggu di kantor.

Meski begitu, microshifting menuntut tingkat kepercayaan yang tinggi dari perusahaan.

CEO Owl Labs, Frank Weishaupt, menekankan pentingnya budaya akuntabilitas, manajemen yang baik, serta komunikasi yang jelas. Tanpa itu, kinerja bisa menurun dan memicu kecemburuan antar karyawan.

Manajer juga perlu menyesuaikan ekspektasi. Jika sebelumnya laporan diminta masuk pukul 5 sore, kini bisa saja masuk pukul 3 pagi, asalkan pekerjaan selesai dengan baik.

Leave a Reply