Find Us on Facebook

Subscribe to Our Channel

https://www.youtube.com/@topcareertv1083

LifestyleTren

Minta Warga Periksa Jika Ada Gejala, Menkes: Kusta Bukan Kutukan

Menkes Budi dalam media briefing terkait kondisi kusta di Indonesia, Kamis (15/1), di Perpustakaan Wisma Habibie Ainun, Jakarta. (kemkes.go.id)

TopCareer.id – Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin meminta masyarakat tidak takut memeriksakan diri jika mengalami gejala kusta.

Dia menegaskan, kusta bukan penyakit mistik atau kutukan, namun penyakit menular yang sudah diketahui penyebabnya secara ilmiah dan bisa disembuhkan.

“Kusta bukan penyakit mistik atau kutukan. Ini penyakit yang disebabkan oleh bakteri, dan ilmu pengetahuannya sudah jelas sejak lebih dari satu abad lalu,” kata Menkes.

Dalam media briefing pada Kamis (15/1/2026) di Jakarta, Budi menjelaskan bahwa kusta disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae.

Kusta merupakan hasil interaksi berbagai faktor, yaitu pejamu (host), kuman (agent), dan lingkungan. Penularan terjadi melalui kontak erat dan berkepanjangan dengan seseorang yang terinfeksi.

Baca Juga: Menkes Ingin Naikkan Usia Harapan Hidup Orang Indonesia

Ada beberapa gejala kusta yang harus diwaspadai dan segera diperiksakan.

Gejala tersebut yaitu bercak kulit merah atau putih yang tidak gatal, tampak mengkilap atau kering bersisik, kulit yang tidak berkeringat, alis mata rontok, penebalan di wajah dan telinga, serta lepuh atau luka tidak nyeri di tangan atau kaki.

Gangguan pada saraf juga bisa terjadi seperti nyeri pada saraf tepi, kesemutan, rasa tertusuk atau nyeri pada anggota gerak, kelemahan otot atau kelopak mata, disabilitas atau deformitas tanpa riwayat kecelakaan, serta ulkus yang sulit sembuh.

Budi mengatakan, pengobatan kusta sudah ada dan terbukti efektif. Setelah mulai berobat, risiko penularan bisa dihentikan dalam waktu singkat.

“Begitu pengobatan dimulai, dalam waktu kurang dari satu minggu pasien sudah tidak menularkan lagi,” kata Budi.

Baca Juga: UNIMMA Resmi Luncurkan Prodi Kedokteran

Meski begitu, Menkes mengakui stigma dan disinformasi masih jadi tantangan dalam upaya penanganan kusta. Situasi ini membuat sebagian masyarakat masih enggan memeriksakan diri, sehingga temuan kasus kerap terlambat.

Ansori, peneliti dari The Habibie Center, sementara itu menilai penanganan penyakit ini juga harus dilakukan dari sisi sosial.

“Banyak orang yang sebenarnya sudah mengetahui dirinya terkena kusta, tetapi memilih menyembunyikannya karena takut terhadap konsekuensi sosial,” kata Ansori.

Yohei Sasakawa, WHO Goodwill Ambassador for Leprosy Elimination, sementara itu mengatakan Indonesia punya peran penting dalam upaya penanganan kusta secara global.

“Eliminasi kusta tidak hanya tentang pengobatan medis, tetapi juga tentang menghapus stigma dan memulihkan martabat manusia,” ujarnya.

Leave a Reply