Find Us on Facebook

Subscribe to Our Channel

https://www.youtube.com/@topcareertv1083

Edukasi

Wamendikdasmen: Peran Guru Tidak Bisa Digantikan AI

Wamendikdasmen Fajar Riza Ul Haq dalam Yudisium Pendidikan Profesi Guru (PPG) di Surakarta, Sabtu (31/1/2026). (Dok: Kemendikdasmen)

TopCareer.id – Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Fajar Riza Ul Haq meminta para guru tidak memandang kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI) sebagai ancaman.

Menurut dia, perkembangan AI justru perlu dilihat sebagai peluang untuk memperkuat kualitas pembelajaran sekaligus peran pendidik dalam membentuk karakter generasi bangsa.

Hal tersebut disampaikan Fajar dalam acara Yudisium Pendidikan Profesi Guru (PPG) di Surakarta, Sabtu (31/1/2026).

Ia mengungkapkan, perkembangan teknologi global menunjukkan lebih dari 78 persen organisasi di dunia telah memanfaatkan AI. Selain itu, otomatisasi diproyeksikan memangkas hingga 57 persen jam kerja global.

Perubahan ini, kata Fajar, berdampak langsung pada dunia pendidikan dan menuntut kesiapan guru dalam membekali peserta didik dengan kompetensi masa depan.

Dalam konteks tersebut, ia menegaskan AI tidak menggantikan peran guru, melainkan berfungsi sebagai asisten dalam proses pembelajaran. AI dapat membantu personalisasi belajar, analitik pembelajaran, serta meningkatkan efisiensi kerja guru.

Baca Juga: Wamendikdasmen: Penguasaan AI Harus Dilandasi Etika dan Tanggung Jawab

Namun demikian, nilai keteladanan, empati, kebijaksanaan, serta pembentukan karakter tetap menjadi peran utama guru yang tidak dapat digantikan oleh teknologi.

“Pendidikan bukan sekadar transfer pengetahuan, tetapi proses pemanusiaan manusia. Di sinilah peran guru menjadi penentu arah dan makna pemanfaatan teknologi,” ujar Fajar, dikutip dari laman resmi Kemendikdasmen.

Menurutnya, AI membuka peluang besar untuk meningkatkan kualitas pembelajaran melalui pendekatan yang lebih inklusif, personalisasi materi, dan inovasi pembelajaran kontekstual.

Namun, peluang tersebut hanya akan bermakna jika guru memiliki literasi digital yang kritis dan kapasitas pedagogik yang kuat.

Baca Juga: Kata Pakar Unair Soal Potensi AI Gantikan Guru dan Dosen

Fajar juga menyoroti sejumlah tantangan etis dalam pemanfaatan AI di bidang pendidikan seperti risiko ketergantungan berlebihan, menurunnya daya kritis peserta didik, hingga penggunaan AI yang tidak bertanggung jawab.

Oleh karena itu, ia menegaskan bahwa peningkatan kompetensi guru menjadi kunci untuk memastikan pemanfaatan AI yang bijak, kritis, dan memberikan manfaat nyata bagi dunia pendidikan.

Lebih lanjut, Fajar menyebut orientasi pengajaran saat ini adalah tentang mengapa suatu hal diajarkan dan bagaimana.

Pendekatan di ruang kelas bergeser untuk mengembangkan diri anak menjadi lebih kritis, agar mereka lebih berdaya untuk menjelajah dan berimajinasi.

“Biarlah anak dilatih untuk mengajukan pertanyaan. Kualitas pertanyaan menunjukkan sistem berpikir anak. Kita latih kemampuan mereka dalam mengembangkan pertanyaan bukan menjawab pertanyaan,” pungkasnya.

Leave a Reply