Find Us on Facebook

Subscribe to Our Channel

https://www.youtube.com/@topcareertv1083

Tren

Pekerja Indonesia Paling Bahagia di Asia Pasifik, Tapi Diintai Burnout

Wisnu Dharmawan, Acting Managing Director untuk Indonesia dari Jobstreet by SEEK. (TopCareer.id/Giovani Dio Prasasti)

TopCareer.id Pekerja Indonesia jadi yang paling bahagia di kawasan Asia Pasifik. Meski begitu, masih ada ancaman burnout yang mengintai.

Dalam laporan Workplace Happiness Index yang dirilis Jobstreet by SEEK, 82 persen responden menyatakan bahwa mereka merasa cukup atau sangat bahagia di tempat kerja.

Survei sendiri dilakukan secara online oleh lembaga riset Nature pada Oktober hingga November 2025, pada sekitar 1.000 individu di pasar kerja Indonesia dengan rentang usia 18 hingga 64 tahun.

Angka kebahagiaan pekerja Indonesia lebih tinggi ketimbang negara-negara dengan pasar kerja yang lebih kompetitif seperti Hong Kong (47 persen), Singapura (56 persen), dan Australia (57 persen).

“Kemungkinannya karena Indonesia kulturnya cukup positif dalam merespon,” kata Wisnu Dharmawan, Acting Managing Director untuk Indonesia dari Jobstreet by SEEK, di Jakarta, Selasa (3/2/2026).

“Di negara-negara seperti Hong Kong, Singapura, Australia bisa jadi lebih kompetitif dan tekanan biaya hidup lebih besar,” imbuhnya.

Baca Juga: Upskilling Jadi Kunci Lulusan Vokasi Bersaing di Dunia Kerja

Selain kebahagiaan umum, 86 persen pekerja Indonesia merasa dihargai dan 75 persen merasa pekerjaan mereka memberikan kepuasan batin (fulfilling)

Rekan kerja atau tim menjadi elemen spesifik tertinggi yang membuat pekerja bahagia (77 persen), diikuti lokasi tempat kerja (76 persen), serta tujuan kerja atau perasaan bahwa pekerjaan mereka bermakna (75 persen).

Gaji yang lebih tinggi tetap menjadi keinginan utama bagi 54 persen pekerja. Namun, data mencatat bahwa pendorong kebahagiaan yang sebenarnya adalah keseimbangan kehidupan kerja (work-life balance) dan tujuan kerja.

Meski begitu, Jobstreet juga mengingatkan bahwa 43 persen pekerja merasa lelah secara mental atau burnout, maupun kehabisan tenaga.

Bahkan, 40 persen dari mereka yang mengaku “bahagia” juga merasakan burnout di bahwa permukaan.

Baca Juga: Biaya Hidup Tak Sebanding Gaji Pekerja, Perusahaan Harus Apa?

Selain itu, ada 42 persen pekerja yang merasa kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) mengancam pekerjaan mereka, khususnya di sektor teknologi.

Job security itu juga sangat penting bagi karyawan, sehingga mereka ada concern dengan AI,” kata Wisnu.

“Kalau untuk teman-teman yang bekerja di bidang teknologi itu malah lebih dari separuh yang khawatir suatu hari pekerjaan saya akan bertambah risikonya,” ujarnya.

Padahal, laporan juga menyebut bahwa 90 persen karyawan yang bahagia akan termotivasi untuk melakukan sesuatu yang lebih dari sekadar bekerja seperti biasa.

Wisnu pun mengatakan, tingginya angka kebahagiaan pekerja Indonesia di antara Asia Pasifik merupakan cerminan dari optimisme dan budaya positif yang kuat di tanah air.

“Namun, perusahaan tidak boleh terlena. Angka burnout sebesar 43 persen dan kekhawatiran terhadap AI merupakan ‘alarm’ bagi para pemberi kerja untuk bertindak proaktif,” ujarnya.

“Kebahagiaan yang berkelanjutan hanya bisa dicapai jika perusahaan mampu menyeimbangkan target bisnis dengan kesejahteraan mental karyawan,”pungkasnya.

Leave a Reply