Find Us on Facebook

Subscribe to Our Channel

https://www.youtube.com/@topcareertv1083

Tren

Kemenperin Gaet Startup Dorong Perluasan Akses Kerja Disabilitas di Industri

Direktorat Jenderal IKMA dan startup Top Loker menyelenggarakan kegiatan “Pengembangan Inklusi Sektor Manufaktur untuk Disabilitas” di Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Semarang pada 28 Januari 2026. (Dok: Kemenperin)

TopCareer.id – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mendorong kesempatan kerja bagi para penyandang disabilitas di industri. Salah satunya adalah dengan menggandeng startup.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, penguatan sektor industri manufaktur harus berjalan seiring dengan prinsip keadilan sosial dan inklusivitas.

Ia mengatakan, sektor industri manufaktur punya peran strategis dalam menyerap tenaga kerja nasional.

“Kementerian Perindustrian berkomitmen memastikan agar pembangunan industri juga membuka ruang partisipasi yang setara bagi penyandang disabilitas, sehingga mereka dapat berkontribusi secara produktif dan mandiri dalam ekosistem industri nasional,” kata Agus.

Per Agustus 2025, Kemenperin mencatat jumlah tenaga kerja di sektor manufaktur mencapai 20,26 juta orang, atau sekitar 13,83 persen dari total tenaga kerja nasional.

Dengan prinsip inklusivitas, sektor manufaktur diharapkan dapat melibatkan peran yang lebih besar dari tenaga kerja penyandang disabilitas.

Baca Juga: 1.236 Perusahaan Industri Mulai Produksi di 2026, 218 Ribu Pekerja Siap Diserap

Namun, Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA), Kemenperin Reni Yanita mengatakan, akses penyandang disabilitas ke sektor manufaktur masih menghadapi sejumlah tantangan.

Beberapa tantangan ini misalnya terbatasnya akses informasi pekerjaan, kesenjangan kompetensi dengan kebutuhan industri, minimnya jejaring kemitraan formal, serta lingkungan kerja yang belum sepenuhnya inklusif.

Adapun, Direktorat Jenderal IKMA dan startup Top Loker menggelar kegiatan “Pengembangan Inklusi Sektor Manufaktur untuk Disabilitas” di Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Semarang pada 28 Januari 2026 lalu.

Reni mengatakan, kegiatan ini merupakan bentuk kolaborasi nyata antara pemerintah dan dunia usaha dalam memperluas akses kerja inklusif bagi penyandang disabilitas, di sektor industri strategis.

“Kegiatan ini dilaksanakan untuk meningkatkan serapan tenaga kerja penyandang disabilitas di sektor industri sekaligus membuka akses kerja sama antara Sekolah Luar Biasa dengan industri manufaktur,” kata Reni.

Baca Juga: Sertifikasi Profesi Harus Mudah Diakses, Termasuk buat Disabilitas

Lewat acara ini, peserta didik disabilitas tingkat SMA/sederajat dapat memahami kebutuhan kompetensi industri, sehingga mampu menyesuaikan diri dengan standar dan ekspektasi dunia kerja.

Kegiatan ini juga bertujuan membangun jejaring kemitraan berkelanjutan antara satuan pendidikan disabilitas, peserta didik, dan dunia usaha, khususnya sektor industri manufaktur.

45 siswa disabilitas kelas XII SLB dari delapan kabupaten/kota di Jawa Tengah berkesempatan untuk bertemu langsung dengan 24 perusahaan manufaktur dari sektor industri agro, elektronik, tekstil dan produk tekstil, serta industri aneka di wilayah Jawa Tengah.

Reni menegaskan, sektor manufaktur butuh sikap kerja yang tekun, teliti, konsisten, dan loyal, yang justru kerap menjadi keunggulan dari para penyandang disabilitas.

Menurutnya, inklusivitas di sektor industri bukan hanya pemenuhan regulasi, melainkan juga investasi sumber daya manusia yang bernilai bagi produktivitas dan keberlanjutan industri.

Leave a Reply