TopCareerID

Pekerja Gen Z Paling Tak Bahagia di Dunia Kerja Indonesia

Ilustrasi kesalahan besar Gen z memanfaatkan AI, yakni bikin surat lamaran yang sama persis kata demi kata.

Ilustrasi kesalahan besar Gen z memanfaatkan AI, yakni bikin surat lamaran yang sama persis kata demi kata.

TopCareer.id – Gen Z jadi kelompok pekerja yang paling tidak bahagia di dunia kerja Indonesia, menurut sebuah survei yang dilakukan oleh Jobstreet by SEEK.

Menurut Workplace Happiness Index 2025, Gen X menjadi kelompok yang paling puas dengan tingkat kebahagiaan mencapai 85 persen, diikuti Milenial atau Gen Y dengan angka 84 persen.

“Kalau Gen X secara mengejutkan work-life balance bukan yang paling penting,” kata Wisnu Dharmawan, Acting Managing Director untuk Indonesia dari Jobstreet by SEEK dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (3/2/2026).

Pada Gen X faktor pendorong kebahagiaan kerja yang paling berpengaruh yaitu tanggung jawab dan pekerjaan (78 persen), tim dan kolega (74 persen), serta manajer (65 persen).

Baca Juga: Pekerja Indonesia Paling Bahagia di Asia Pasifik, Tapi Diintai Burnout

Sementara, pada work-life balance menjadi faktor pendorong kebahagiaan kerja tertinggi pada Generasi Milenial dan Gen Z.

Pada Milenial, faktor pendorong tertinggi yaitu work-life balance (76 persen), budaya perusahaan (74 persen), dan job security (73 persen).

Sementara itu, di antara tiga generasi yang disurvei, Gen Z jadi kelompok pekerja paling tidak bahagia dengan angka kebahagiaan hanya 76 persen.

Work-life balance (69 persen), opsi work from home atau WFH (69 persen), dan tujuan kerja yang bermakna (68 persen), jadi faktor pendorong kebahagiaan tertinggi di kalangan Gen Z.

“Kalau Gen Z dua faktor pendorong utama kan work-life balance dan work from home, tapi sebenarnya itu bukan berarti pekerjaan ini adalah freelance,” kata Wisnu.

Baca Juga: Tren Rekrutmen 2026: AI Jadi Standar Baru, Talenta Global Kian Diburu

Ia mengatakan, saat ini banyak pekerjaan full-time yang memberikan kesempatan seseorang untuk menyeimbangkan antara kehidupan personal dan pekerjaannya.

Work-life balance belum tentu jam kerjanya lebih sedikit, lebih sering juga dikatakan adalah fleksibilitas,” Wisnu menjelaskan.

Menuru Wisnu, ketidakbahagiaan yang dialami Gen Z kemungkinan terjadi karena belum tercapainya faktor-faktor pendorong tadi.

Untuk meningkatkan kebahagiaan pekerja, Jobstreet pun mendorong perusahaan untuk fokus pada tiga strategi utama.

Strategi itu adalah membangun makna kerja bagi setiap level karyawan, mendukung batasan kehidupan pribadi melalui fleksibilitas, serta mendengarkan kebutuhan spesifik antar-generasi.

Penting juga bagi perusahaan serta jajaran manajemen untuk menjadi garda terdepan dalam meruntuhkan sekat komunikasi dan menciptakan lingkungan yang inklusif agar kandidat terbaik tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang.

Exit mobile version