TopCareerID

Tak Cuma Menenangkan, Meditasi Juga Asah Fungsi Otak

Ilustrasi meditasi. (Freepik.com)

TopCareer.id – Selain menenangkan pikiran, meditasi ternyata juga mampu membentuk ulang aktivitas otak dengan cara yang mendalam, meningkatkan koneksi saraf, bahkan disebut mirip efek beberapa zat psikedelik.

Menurut sebuah studi terbaru yang diterbitkan di Neuroscience of Consciousness, meditasi dapat membantu orang yang melakukannya mencapai kondisi brain criticality atau “kritikalitas otak.”

Kondisi tersebut merupakan keadaan di mana koneksi saraf tidak terlalu lemah maupun terlalu kuat, tetapi berada pada tingkat optimal untuk kelincahan dan fungsi mental.

Riset ini dipimpin neurofisiolog Annalisa Pascarella dari Italian National Research Council.

Tim peneliti memakai pemindaian otak resolusi tinggi dan teknologi pembelajaran mesin untuk melihat bagaimana meditasi mengubah aktivitas otak, sehingga tercapai keseimbangan antara kekacauan dan keteraturan saraf.

Dilansir Science Alert, dikutip Jumat (20/2/2026), para peneliti menggunakan magnetoensefalografi (MEG) untuk mengukur aktivitas otak yang terkait dengan dua jenis meditasi dan istirahat tanpa meditasi pada 12 biksu.

MEG mengukur medan magnet yang dihasilkan oleh sinyal listrik di otak.

Baca Juga: Berapa Lama Sebaiknya Meditasi Dilakukan?

Para biksu adalah praktisi meditasi profesional. Rata-rata memiliki lebih dari 15 ribu jam meditasi dan berasal dari biara Santacittarama dekat Roma.

Semua laki-laki berusia 25 hingga 58 tahun dan berasal dari tradisi Hutan Thailand, cabang Buddhisme Theravada yang dikenal sebagai Way of the Elders.

Dalam studi ini, peneliti melakukan riset pada dua jenis meditasi. Pertama adalah Samatha yang memusatkan perhatian pada satu objek, seperti pernapasan, untuk mencapai ketenangan pikiran.

Jenis kedua yaitu Vipassana yang memfokuskan pikiran pada saat ini, sehingga sensasi, emosi, dan pikiran, bisa mengalir tanpa penilaian.

“Dengan Samatha, Anda mempersempit bidang perhatian seperti mempersempit sorot lampu senter. Sedangkan dengan Vipassana, sebaliknya, Anda memperluas sorotnya,” kata Karim Jerbi, ilmuwan saraf dari University of Montreal.

Menurut Jerbi, yang juga menulis studi ini, kedua praktik ini secara aktif melibatkan mekanisme perhatian. Praktisi meditasi pun sering bergantian melakukan keduanya.

Dengan menganalisis sinyal otak para biksu, tim peneliti menemukan bahwa Samatha menghasilkan keadaan otak yang lebih fokus dan stabil, sehingga kondusif untuk konsentrasi mendalam.

Sementara, Vipassana membawa biksu lebih dekat ke arah brain criticality, istilah yang dipinjam dari fisika statistik dan dipakai selama dua dekade terakhir, untuk menggambarkan keseimbangan optimal antara kekacauan dan keteraturan di fungsi saraf.

Di titik tersebut, otak menjadi ideal untuk perhatian dan fleksibilitas, mampu menyimpan dan memproses informasi secara efektif, serta beradaptasi cepat terhadap tugas yang berubah.

“Pada titik kritis, jaringan saraf cukup stabil untuk mentransmisikan informasi dengan andal, namun cukup fleksibel untuk menyesuaikan diri dengan cepat terhadap situasi baru,” kata Jerbi.

Ia mengatakan, keseimbangan ini mengoptimalkan kemampuan otak dalam memproses informasi, belajar, dan merespon.

Baca Juga: Ini Cara Mudah Kelola Stres, Lakukan Setiap Hari!

Perbedaan lain juga terlihat. Misalnya, Samatha mungkin lebih efektif dalam mengaktifkan jaringan sensorik, memungkinkan praktisi lebih fokus pada sensasi tertentu, seperti pernapasan mereka.

Selain itu, penelitian juga menemukan penurunan aktivitas gamma oscillations, menandakan meditasi dapat mengurangi perhatian pada rangsangan luar dan meningkatkan fokus ke dalam diri.

Temuan baru ini menunjukkan bahwa meditasi dapat mendorong pergeseran dari keterlibatan ke kesadaran.

Di antara 12 biksu, praktisi yang lebih berpengalaman menunjukkan perbedaan lebih kecil antara kondisi meditasi dan istirahat, menandakan otak mereka tetap berada dalam dinamika yang mirip bahkan saat tidak meditasi.

Meski begitu, penelitian lain dengan meditator reguler menunjukkan praktik ini bisa menimbulkan dampak yang kurang baik.

Beberapa meditator melaporkan mengalami kecemasan, depresi, bahkan delusi dan rasa takut secara umum. Efek negatif ini sering kurang diperhatikan dan mungkin lebih umum dari yang disangka.

Untuk itu, meditasi bukan jalur instan menuju pencerahan. Namun, penelitian terbaru membuka wawasan baru tentang bagaimana praktik ini membentuk otak dan meningkatkan kemampuan mental.

Exit mobile version