Find Us on Facebook

Subscribe to Our Channel

https://www.youtube.com/@topcareertv1083

Lifestyle

Tips Aman Puasa Ramadan Bagi Penyandang Diabetes

Ilustrasi Diabetes. Dok/ECR Journal

TopCareer.id – Bagi penyandang diabetes yang harus mengatur jadwal makan, puasa selama Ramadan haruslah dilakukan dengan cara yang aman.

Ali Baswedan, Dokter Spesialis Penyakit Dalam Sub Endokrin Metabolik RSA UGM mengatakan, ada dua syarat yang harus dipenuhi jika pasien diabetes mau berpuasa.

Pertama, penderita diabetes wajib berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter.

“Artinya harus ada izin dari dokter karena itu penting. Dokter lah yang dapat menentukan dapat berpuasa atau tidak,” kata Ali, dikutip dari laman UGM, Kamis (26/6/2026).

Kedua, pasien diabetes tidak boleh melewatkan sahur dan saat berbuka tidak boleh mengonsumsi makan dan minum secara berlebihan.

Namun, Ali menegaskan bahwa tidak semua pasien diabetes boleh puasa. Mereka yang boleh puasa harus tak punya komplikasi penyakit yang berat, seperti tidak ada luka dan mengalami infeksi paru yang sedang aktif.

Baca Juga: Tak Cuma Puasa, Ramadan Momen Tepat Jauhi Perilaku Konsumtif

Selain itu, pasien juga tidak sedang berada pada posisi gula darah yang melonjak atau tidak dalam fase sakit yang akut.

Apabila pasien tidak mengalami batuk, pilek, demam, atau terdapat luka di kakinya, maka ia tidak perlu memaksakan diri untuk berpuasa. Ali mengatakan, boleh atau tidaknya tergantung izin dokter.

“Nanti yang menentukan boleh puasa atau tidak itu dari dokter, karena dokter itu punya riwayatnya,” kata Ali.

Pola dan jadwal makan yang teratur saat menjalankan ibadah puasa ini juga akan berpengaruh pada kondisi penderita diabetes. Pasalnya, tubuh akan mengalami fluktuasi gula darah yang naik turun.

Untuk mengatasi ini, Ali mengingatkan agar pasien tidak boleh melewatkan sahur untuk mencegah gula darah tersebut drop pada siang hari. “Dan tentu pada saat berbuka puasa jangan berlebihan,” pesannya.

Atur waktu makan saat berbuka

Selain itu, cara yang tepat untuk mengatur waktu makan saat berbuka adalah dengan membaginya ke dalam tiga kloter untuk konsumsi setelah berbuka, yaitu setelah adzan, sebelum tarawih, dan sesudah.

“Jika berbuka puasa secara berlebihan, akan terjadi lonjakan secara berlebihan,” ujar Ali.

Untuk dosis konsumsi obat dokter, terdapat panduan yang menyebutkan pengurangan sepertiga dari dosis biasanya. Namun, Ali mengatakan dia lebih meyakini untuk mengurangi setengah dosis terlebih dulu.

Sebab menurutnya, memulai dosis kecil jauh lebih baik daripada tiba-tiba dikurangi sepertiganya. “Jika mengurangi sepertiga dari dosis, kemungkinan terjadinya drop itu kan lebih besar. Tapi kalau setengah dulu tidak apa-apa,” kata Ali.

Ia menambahkan, jika sudah menerapkan pola seperti ini selama 45 hari, nanti dilakukan evaluasi. Apabila hasil evaluasi perlu menambahkan dosis, dosis baru akan ditambah.

Baca Juga: Pakar Jelaskan Beda Puasa Ramadan dan Intermittent Fasting

Selain itu, para penyandang diabetes perlu mengonsumsi makanan berkarbohidrat kompleks seperti beras merah, roti, gandum, atau oatmeal saat sahur.

Konsumsi juga protein dan sayur-sayuran untuk menu sahur. Tidak lupa, Ali juga menegaskan pentingnya untuk mengonsumsi air putih secukupnya.

Kemudian untuk menu berbuka, bisa dimulai dengan konsumsi yang manis-manis terlebih dahulu, tentunya dengan porsi secukupnya.

“Pokoknya secukupnya. Tapi yang manis-manis memang dianjurkan pada saat buka itu yang manis dianjurkan tapi sedikit saja porsinya,” kata Ali.

Lalu sebelum tarawih, baru diperbolehkan untuk makan nasi dan selepas tarawih, perut dapat diisi dengan snack.

Tanda-tanda yang harus diwaspadai

Ali mengatakan, ada beberapa tanda penyandang diabetes memiliki gula darah tinggi yang biasanya diperlihatkan dengan haus berlebihan, sering bolak-balik ke toilet untuk pipis, lemas, badan sedikit panas, dan pusing kepala.

Sementara, untuk tanda-tanda individu mengalami gula darah rendah adalah lemas yang berlebihan sekaligus berkeringat.

Untuk mencegah terjadinya kondisi ini, Ali mengimbau perlu adanya pengecekan gula darah selama tiga sampai empat hari dengan jadwal sebelum sahur, siang hari pada jam 12, dan dua sampai tiga jam sebelum buka.

Ali pun menegaskan, jika pasien yang mengalami gula rendah saat berpuasa mengalami kondisi berdebar-debar, maka dia wajib membatalkan puasa.

“Wajib dibatalkan karena resiko terjadinya hipoglikemia (gula darah rendah) itu jauh lebih berbahaya,” katanya. Sementara, untuk jumlah gula darah ideal yaitu di bawah 200 atau 180, atau rentang antara 110 hingga 180.

Leave a Reply