TopCareerID

Gen Z Tak Minat Jadi Manajer, Pakar Ungkap Alasannya

Ilustrasi penelitian Microsoft dan LinkedIn menyebut pengunaan AI generatif id tempat kerja meningkat hampir dua kali lipat dalam kurun waktu 6 bulan.

Ilustrasi pekerja (Pexels)

TopCareer.id – Gen Z belakangan disebut-sebut menjadi generasi yang enggan untuk duduk sebagai seorang manajer. Tak cuma di Indonesia, ternyata fenomena ini juga terjadi di banyak negara.

Survei dari Robert Walters North di Inggris mencatat, lebih dari setengah profesional muda Gen Z tidak tertarik pada peran manajemen tradisional. Ketimbang mengejar otoritas, mereka lebih memilih keahlian.

Menurut riset tersebut, perusahaan di seluruh Inggris mencatat bahwa 52 persen profesional Gen Z secara sengaja menghindari posisi manajemen.

Selain itu, sebanyak 69 persen memandang manajemen tingkat menengah dengan stres yang tinggi dan imbalan yang minim.

Baca Juga: Cara Terbaik Bekerja dengan Atasan Lebih Muda

Elsye Tandelilin, dosen Program Studi Manajemen Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Surabaya (Ubaya) mengatakan, dalam dunia manajemen, fenomena ini kerap disebut “The Management Gap” atau “Conscious Uncoupling from Management.”

“Bagi Gen Z, menduduki sebuah jabatan manajerial bukanlah sebuah prestasi, melainkan beban yang tidak seimbang dengan imbalan yang diterima,” kata Elsye, mengutip laman Ubaya, Jumat (27/2/2026).

Jika melihat dampak operasional jangka pendek, fenomena ini dinilai bisa menyebabkan kekosongan kepemimpinan, serta lonjakan angka pengunduran diri karyawan (turnover) di level middle manager.

Baca Juga: Pekerja Gen Z Paling Tak Bahagia di Dunia Kerja Indonesia

Sementara untuk jangka panjang, ada risiko krisis suksesi kepemimpinan level atas. Kondisi finansial perusahaan juga dapat terguncang karena perlu biaya tambahan untuk rekrutmen eksternal dan pelatihan.

“Dapat terjadi penurunan inovasi organisasi akibat tidak adanya ‘jembatan’ yang menghubungkan visi strategis dan eksekusi teknis dalam perusahaan,” kata Elsye.

Dia menambahkan, kualitas lingkungan kerja ikut mengalami degradasi karena ketergantungan yang tinggi terhadap manajer senior.

Pada jangka pendek, para manajer senior pun bisa mengalami burnout yang dapat berimbas pada fondasi manajerial yang rapuh, apabila fenomena ini berlangsung dalam jangka panjang.

Yang harus dilakukan perusahaan

Untuk menghadapi ini, Elsye merekomendasikan pendekatan Individual Contributor (IC), untuk menciptakan kondisi yang imbang antara kontribusi dengan insentif yang diterima.

“Jangan memaksa karyawan yang kompeten untuk menerima kenaikan jabatan hanya demi kenaikan gaji, namun hadirkan sistem kompensasi yang didasarkan atas kinerja, kontribusi, atau prestasi,” ujarnya.

Selain itu, mengingat Gen Z sangat menghindari pekerjaan administrasi, lakukan otomatisasi dengan bantuan kemajuan teknologi.

Kepala Laboratorium Manajemen Sumber Daya Manusia Prodi Manajemen Ubaya itu menambahkan, top management juga harus melakukan perubahan.

Baca Juga: Pekerja Indonesia Paling Bahagia di Asia Pasifik, Tapi Diintai Burnout

Elsye menekankan pentingnya kepemimpinan yang empati yang dibentuk melalui pelatihan, agar wajah manajemen dapat berubah dari pengawas menjadi fasilitator.

Menurutnya, pemimpin yang terbuka dinilai dapat memancing potensi kreativitas dan inovasi yang dapat mendukung keberlangsungan perusahaan.

“Ciptakan komunikasi dua arah karena Gen Z tidak hanya ingin diperintah, namun juga didengar. Mereka lebih termotivasi bila pendapat mereka dianggap relevan dan diterima pimpinan,” pungkas Elsye.

Exit mobile version