Cerita Dokter Perempuan Taklukkan Dunia Bedah Robotik
TopCareer.id – Sejak 2013, Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi Sita Ayu Arumi, menjadi dokter perempuan pertama yang bergabung dalam tim bedah robotik ginekologi di Indonesia.
Sita menjadi bagian dari sejarah awal kehadiran teknologi bedah robotik di Indonesia.
Saat pertama kali bergabung, teknologi semacam itu baru setahun diperkenalkan di RSU Bunda Jakarta, sehingga masih sangat asing bagi kebanyakan orang, termasuk pasien, bahkan bagi Sita sendiri kala itu.
Kala itu, untuk pertama kalinya ia tidak berdiri di sisi pasien, tapi duduk beberapa meter dari meja operasi, menempelkan wajah pada viewer konsol, sementara tangan dan jarinya mengendalikan instrumen robotik.
“Awalnya terasa sangat berbeda. Saya juga harus membangun kepercayaan terhadap teknologinya,” kata Sita, mengutip keterangan tertulis, Kamis (1/10/2026).
Bukan hanya soal teknologi, Sita juga harus melihat bahwa dirinya jadi satu-satunya perempuan di bidang yang saat itu nyaris didominasi dokter laki-laki.
Baca Juga: Dapat Beasiswa Freeport, Sephia Jadi Dokter Perempuan Pertama Suku Amungme
“Awalnya saya sempat mikir, apa iya saya bisa masuk ke sana? Tapi kalau bukan perempuan yang ikut masuk ke ranah ini, siapa lagi yang akan lebih memahami apa yang dibutuhkan pasien perempuan?” ujarnya.
Pertanyaan ini terus ia pegang, karena menurutnya ini bukan lagi soal menguasai teknologi baru, tapi soal siapa yang berada di depan konsol jika ada pasien perempuan yang perlu penanganan paling sensitif dalam hidupnya.
Menurutnya, masih banyak pasien yang merasa lebih nyaman menceritakan soal keluhan reproduksinya kepada sesama dokter perempuan.
“Ada hal-hal yang pasien lebih nyaman ceritakan ke sesama perempuan, karena merasa lebih dipahami. Itu yang bikin saya merasa kehadiran dokter perempuan di ranah ini memang dibutuhkan,” kata Sita.
Rasa takut pasien soal bedah robotik

Sita mengatakan, wajar saat pasien takut mendengar bedah robotik. Ia memahami ini karena pernah mengalaminya sendiri.
Menurutnya, istilah “robot” kerap dibayangkan sebagai mesin yang bergerak dan mengambil keputusan sendiri, tanpa campur tangan manusia. Padahal, kenyataannya berbeda.
“Sekitar empat belas tahun lalu, saya sendiri juga butuh waktu untuk percaya diri duduk di depan konsol. Bedah robotik kala itu teknologi baru, jadi wajar kalau pasien pun butuh waktu untuk percaya,” ujarnya.
Namun Sita menegaskan, robot dalam bedah robotik tidak punya mode otomatis, serta tidak ada keputusan yang diambil oleh alat itu sendiri.
“Robot ini alat bantu, bukan pengambil keputusan. Semua gerakan di dalam tubuh pasien itu dokter yang kendalikan, dari awal sampai akhir tindakan,” kata Sita.
Baca Juga: Penggunaan AI di Kesehatan Harus Utamakan Keselamatan Pasien
Sebelum tindakan dimulai, sistem robotik melewati rangkaian pemeriksaan keamanan (safety check) untuk memastikan seluruh instrumen berfungsi optimal.
Sistem juga dilengkapi tremor filter yang menyaring getaran kecil tangan dokter, sehingga gerakan yang diterjemahkan ke instrumen lebih stabil dan presisi.
“Kalau tangan saya diam, instrumennya juga diam. Robot ini membantu saya bergerak lebih presisi dari tangan ‘telanjang’, tapi soal jaringan mana yang diangkat dan sejauh mana batasnya, itu murni keputusan dokter,” ujarnya.
Kontrol penuh inilah yang memberi dokter fleksibilitas dalam menyesuaikan tindakan pada situasi kompleks yang butuh presisi tinggi.
Sederet kasus yang ditangani

Sepanjang kariernya, Sita dan timnya sudah menangani berbagai kasus komplek mulai dari mioma multiple berukuran besar, kista dengan perlengketan luas, hingga endometriosis berat yang melibatkan banyak organ di sekitar rahim.
“Kasus-kasus ini dulu identik dengan operasi besar dan pemulihan panjang. Dengan robotik, kami bisa masuk ke area rumit tanpa membuka rongga perut selebar operasi konvensional,” kata Sita.
Pada kasus dan pasien yang sesuai, pendekatan minimal invasif dapat memberikan sejumlah keuntungan seperti sayatan yang lebih kecil dan masa pemulihan yang relatif lebih singkat dibandingkan operasi terbuka.
Namun, pilihan metode operasi tetap bergantung pada kondisi masing-masing pasien dan pertimbangan dokter.
Sita mencontohkan, pada kasus mioma, momok terbesar pasien yang divonis mioma besar bukan cuma soal operasinya, tapi ketakutan kehilangan rahim.
Ia pun menjelaskan, pada pasien yang memenuhi indikasi, teknologi robotik dapat membantu dokter melakukan pengangkatan miom dengan tetap mempertahankan rahim.
“Ini penting, terutama bagi pasien usia reproduktif yang sebelumnya mungkin harus menghadapi pilihan jauh lebih berat,” pungkasnya.
Baca Juga: Terinspirasi Pasien, Dokter Mesty Ariotedjo Hadirkan Skincare Aman untuk Anak
Lebih dari satu dekade sejak terjun ke bedah robotik, perjalanan Sita bersama timnya membuat RSU Bunda Jakarta menjadi acuan bagi rumah sakit lain, yang kini mulai mengadopsi teknologi serupa.
RSU Bunda Jakarta sendiri mengatakan telah melakukan hampir 1.000 tindakan bedah robotik untuk berbagai kasus kompleks.
Direktur Utama PT Bundamedik Tbk, Agus Heru Darjono mengatakan, setiap dokter yang menangani kasus bedah robotik di seluruh jaringan rumah sakit BMHS melalui pelatihan dan sertifikasi khusus.
“Untuk kasus kompleks, penanganannya pun melibatkan tim multidisiplin,” katanya.
Agus menegaskan, teknologi yang cangguh tetap membutuhkan dokter bedah dan tim multidisiplin yang solid, khususnya ketika harus berhadap dengan kasus-kasus kompleks.
“Kompetensi menangani kasus robotik tidak instan. Butuh waktu bertahun-tahun sampai saya benar-benar nyaman menghadapi kasus kompleks, dan itu masih terus berkembang,” pungkas Sita.



