4 Petugas Meninggal Saat Padamkan Karhutla Bromo
TopCareer.id – Empat petugas meninggal dunia dalam upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Jawa Timur, Kamis (5/10/2026).
Dua orang lain dilaporkan mengalami luka bakar serius dan mendapatkan penanganan medis lanjutan.
Kementerian Kehutanan (Kemenhut) dalam pernyataannya menyampaikan penghormatan atas keberanian dan pengabdian para petugas, warga, dan seluruh unsur yang bekerja di garis depan pengendalian karhutla.
“Doa dan simpati disampaikan kepada keluarga yang ditinggalkan, sekaligus kepada para korban yang masih menjalani perawatan,” kata Ristianto Pribadi, Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri, Kemenhut.
Mengutip keterangan tertulis, Kementerian Kehutanan juga mengingatkan bahwa pemadaman karhutla memiliki risiko tinggi.
“Keselamatan personel harus menjadi perhatian utama, termasuk melalui pembacaan perkembangan api dan arah angin, kesiapan jalur evakuasi, komunikasi antarpersonel, serta penilaian kondisi lapangan sebelum dan selama operasi,” kata Ristianto.
Baca Juga: Asap Karhutla Ancam Paru-paru, Warga Diimbau Lindungi Diri dengan Cara Ini
Data SiPongi Kemenhut mencatat, hingga Kamis, 15 Oktober 2026 pukul 21.00 WIB, secara nasional terdeteksi 799 hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi atau high confidence.
Jumlah ini meningkat 427 titik dibandingkan sehari sebelumnya yang mencatat 372 hotspot. Adapun, di enam provinsi prioritas karhutla terdeteksi 615 hotspot yang terdiri dari:
- Kalimantan Tengah: 389 titik, naik dari 130 titik;
- Sumatera Selatan: 122 titik, naik dari 91 titik;
- Kalimantan Barat: 42 titik, turun dari 59 titik;
- Jambi: 31 titik, naik dari 9 titik;
- Kalimantan Selatan: 31 titik, naik dari 5 titik; dan
- Riau: 0 titik, tetap nihil hotspot high confidence.
Baca Juga: Karhutla RI Disorot Leonardo DiCaprio: 5 Juta Orang Terpapar Asap
Peningkatan terbesar di Kalimantan Tengah pun mengharuskan penguatan operasi lapangan dengan mempertimbangkan hasil groundcheck, kondisi api, karakteristik lahan, sumber air, akses menuju lokasi, dan keselamatan personel.
Menurut Kemenhut, hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan, yang dalam pemantauan ini bersumber dari satelit NASA Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20.
Ristianto menjelaskan, satu kejadian kebakaran dapat terdeteksi sebagai beberapa hotspot.
Karena itu, jumlah titik panas tidak dapat langsung disamakan dengan jumlah kejadian kebakaran maupun luas area yang terbakar. Setiap indikasi tetap harus diverifikasi melalui pemeriksaan lapangan.



