TopCareer.id – Matematika memang sering jadi momok menakutkan bagi anak sekolah, apalagi saat duduk di sekolah dasar hingga menengah.
Namun, studi menemukan bahwa kemampuan matematika menurun dalam beberapa tahun terakhir.
Menurut penelitian University of Eastern Finland di British Journal of Educational Psychology yang terbit akhir 2023, ditemukan minat dan persepsi kompetensi anak-anak terhadap Matematika umumnya positif saat mulai bersekolah.
Namun, minat dan persepsi kompetensi siswa terhadap matematika menjadi kurang positif pada tiga tahun pertama setelah bersekolah di sekolah dasar.
Di tingkat perguruan tinggi, survei Programme for International Student Assessment (PISA) 2025 dari Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) menunjukkan, skor pada matematika, literasi, dan sains, terus mengalami penurunan sejak 2015.
Indah Emilia Wijayanti, Dosen Matematika Aljabar FMIPA UGM mengatakan, temuan itu sejalan dengan tingkat penurunan skill matematika yang signifikan, di tiap momen penerimaan mahasiswa baru di jenjang perguran tinggi.
Baca Juga: Bukan Hanya Guru, Ini 6 Peluang Karier Lulusan Matematika
“Jika dibandingkan, mahasiswa baru program studi Matematika 5 tahun atau 10 tahun yang lalu memiliki kemampuan berpikir matematis yang lebih mumpuni dibanding sekarang,” ujarnya, mengutip laman resmi UGM, Kamis (2/4/2026).
Indah menilai, turunnya kemampuan literasi ini terkait dengan pemahaman mahasiswa saat duduk di bangku sekolah dasar dan menengah. Ini berdampak pada proses pembelajarannya di perguruan tinggi.
“Sederhananya, jika di Sekolah Dasar atau Sekolah Menengah Pertama materi matematikanya berkurang, maka di sekolah Menengah Atas juga berkurang,” kata Indah.
Indah mengatakan, teknologi saat ini jauh mempermudah siswa saat mengerjakan ujian. Selain itu, distraksi fokus dalam proses belajar juga menjadi faktor penyebab menurunnya kemampuan matematis generasi sekarang.
“Di sinilah peran pengajar menjadi krusial karena perlu menyajikan pengalaman matematika yang beragam untuk menjaga konsistensi dan fokus para pelajar,” ujar Indah.
Menurut Indah, satu-satunya cara untuk menguasai matematika adalah dengan latihan. Kebiasaan berlatih mengerjakan soal-soal yang mudah saja bisa menstimulasi otak dan meningkatkan kemampuan berlogika.
“Dengan berlatih, siswa dan mahasiswa akan mampu meningkatkan kompetensi sendiri, bahkan bisa fokus yang sesuai dengan minat mereka,” kata Indah.
Baca Juga: 32.049 Orang Daftar Beasiswa LPDP Tahap 1 tahun 2026
Namun, tanggung jawab dalam mendukung pembelajaran bukan cuma pada pendidik atau keluarga. Regulasi yang menentukan porsi belajar juga punya peran besar.
Indah mengatakan bahwa kurikulum harusnya membebaskan, bukan dibatasi oleh pemerintah.
“Kami universitas, seharusnya diberi kebebasan untuk muatannya, turunkan kapasitasnya, sehingga mahasiswa bisa mengeksplorasi bidang yang diminati di luar matematika,” Katanya.
Di lingkup perguruan tinggi, kampus juga didorong untuk memberikan ruang bagi mahasiswa mempelajari bidang lain yang diminati.
Ini diharapkan dapat membantu mereka memiliki kemampuan berpikir yang lebih komprehensif, serta meningkatkan kapasitas otak untuk dapat memahami konsep-konsep yang lebih kompleks dalam bidang matematika.
“Kita harus bisa mengemas dengan lebih menarik. Dan ini tidak mudah. Itu tantangan buat si pengajar. Biasanya gini, saya kasih motivasi dulu, kemudian saya masukin teorinya, teorinya kayak gini, lho. Setelah itu mereka baru saya ajak untuk terapkan,” pungkas Indah.






