TopCareer.id – Nyeri kronis harus jadi salah satu masalah kesehatan yang kerap dialami lansia dan membutuhkan penanganan yang tepat.
Rudy Susanto, Direktur Eksekutif dan Chief of Trainer Dokter Paincare Klinik Utama GP+ Medical & Paincare menyebut bahwa nyeri kronis banyak dialami pada lansia.
“Lansia terutama di atas 65 tahun, 61 tahun, itu 55 juta orang mengalami osteoarthritis, itu yang kita baca,” kata Rudy kepada TopCareer.id, ditemui dalam peluncuran Klinik Utama GP+ Medical & Paincare di Jakarta Barat, Jumat (24/4/2026).
Ia mengatakan, prevalensi untuk penderita nyeri tulang belakang (low back pain) bisa mencapai 67 persen.
Sementara pada anak muda, Rudy mengatakan yang kerap ditemui adalah masalah acute pain atau nyeri akut, terutama karena cedera di otot, ligamen, tendon, dan sebagainya, terutama pada mereka yang aktif berolahraga.
Baca Juga: Menaker Mau Dunia Usaha Perluas Akses Kerja untuk Lansia
“Biasanya itu terjadi juga cedera di bahu, di mana ligamen di bahunya itu robek. Itu bisa juga disebabkan oleh main voli, softball, atau apa saja yang menggunakan tangan, terutama yang di atas kepala,” ujarnya.
Menurut Rudy, nyeri kronis yang mereka temukan kerap terjadi tanpa pengobatan selama bertahun-tahun.
“Artinya inflamasi itu tidak ditangani, sehingga prostaglandin itu terus menerus menyebabkan amplifikasi dari nyeri. Umpama dari lutut, dia bisa naik ke pinggang, dia bisa naik ke bahu, ini yang dinamakan hiperalgesia di mana sarafnya itu menjadi sensitif,” kata Rudy.
Penanganan nyeri kronis sendiri kini semakin berkembang, termasuk bisae= dilakukan dengan metodologi yang minimal invasif.
GP+ Medical & Paincare misalnya, melakukan penanganan dengan akurasi diagnosis menggunakan metode Painostic untuk mengidentifikasi sumber nyeri hingga ke titik terdalam.
Beberapa metode yang ditawarkan meliputi Painostic atau sistem asesmen nyeri untuk mengidentifikasi sumber nyeri hingga ke titik terdalam secara akurat.
Baca Juga: Musim Pancaroba, Saatnya Jaga Diri dari ISPA
Selain itu terdapat Myospan & Injeksi Coreflex, yaitu metode presisi untuk mengeliminasi ketegangan otot kronis dan memulihkan fungsi saraf yang terganggu.
Metode lain yang ditawarkan yaitu Injeksi Intra Artikular & PRP (Platelet Rich Plasma), sinergi terapi regeneratif untuk mengatasi peradangan sendi dan mempercepat pemulihan jaringan secara alami.
Rudy menambahkan, banyak lansia atau pasien yang mengalami nyeri pada lutut, bahu, pinggang atau punggung bagian bawah, yang menggunakan obat painkiller.
“Painkiller itu kita tahu efek sampingnya dapat menyebabkan luka di lambung, pencernaan, ada juga ke ginjal, jantung, dan sebagainya,” kata Rudy.
Dia mengklaim dalam terapi yang mereka lakukan, pengobatan dengan painkiller dilakukan hanya pada kasus-kasus tertentu, namun tidak lebih dari tiga sampai empat hari.






