EdukasiSosok

Tetap Mengajar dan Meneliti, Dosen Disabilitas Unair Lulus S3 Cum Laude

Dr. Rozi, S.Pi., M.Biotech, dosen Departemen Akuakultur, Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK) Universitas Airlangga. (Dok: Unair)

TopCareer.id – Seorang dosen penyandang disabilitas di Universitas Airlangga (Unair) membawa kisah inspiratif usai meraih gelar doktornya dengan predikat cum laude.

Rozi, dosen Departemen Akuakultur, Fakultas Perikanan dan Kelauta (FPK) Unair resmi meraih gelar doktor pada Program Studi S3 Sains Veteriner Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Unair dengan predikat cum laude dan IPK 4.00 pada Wisuda ke-261 Unair.

“Pendidikan adalah hak semua orang. Keterbatasan tidak boleh menjadi alasan untuk berhenti belajar dan bertumbuh,” kata Rozi, mengutip laman resmi Unair, Selasa (2/6/2026).

Studi doktoralnya diselesaikan dalam waktu 3 tahun 11 bulan. Di tengah masa studinya, ia tetap aktif sebagai dosen dengan mengajar, penelitian, pengabdian masyarakat, hingga publikasi ilmiah internasional.

Selama menempuh studi doktoral, Rozi menunjukkan produktivitas akademik yang tinggi dengan menerbitkan dua artikel internasional bereputasi Scopus Q1 dan tiga artikel Scopus lainnya.

Selain itu, anak keempat dari tujuh bersaudara itu juga aktif sebagai editor pada jurnal internasional bereputasi Scopus.

Baca Juga: Kemnaker Siap Dampingi Perusahaan yang Mau Rekrut Pekerja Disabilitas

Menurutnya, pencapaian dirinya bisa jadi simbol bahwa pendidikan inklusif mampu membuka ruang yang setara bagi setiap individu untuk berkembang dan berkontribusi.

Rozi lahir di Desa Markanding, Sungai Bahar, Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi. Keluarganya yang sederhana menggantungkan hidup dari berjualan ikan secara eceran.

Latar belakang inilah yang jadi motivasi terbesarnya untuk terus menempuh pendidikan hingga jenjang tertinggi.

“Ayah saya mungkin tidak memahami apa itu jurnal internasional atau disertasi doktoral, tetapi beliau mengajarkan kerja keras, ketulusan, dan semangat untuk tidak menyerah,” ujarnya.

Menyandang disabilitas daksa dengan amputasi kedua kaki, perjalanan studi Rozi bukanlah proses yang mudah.

Ia mengaku sempat melewati fase yang berat ketika harus menerima perubahan besar dalam hidupnya tersebut. Namun pelan-pelan dia belajar bahwa keterbatasan bukan akhir dari perjalanan hidup.

Baca Juga: Wamen PPPA Dorong Peluang Kerja Inklusif bagi Penyandang Autisme

“Saya belajar bahwa manusia tidak selalu diuji untuk dijatuhkan, tetapi kadang diuji untuk menemukan versi terkuat dari dirinya,” kata Rozi.

Ia menambahkan, keluarga menjadi salah satu sumber kekuatan terbesar selama menjalani proses studi doktoral.

“Kadang ketika saya merasa lelah, saya ingat bahwa mungkin ada doa ibu yang tidak pernah putus menyebut nama saya,” tambahnya.

Selain itu, dia juga mendapatkan dukungan dari pimpinan fakultas, dosen, tenaga kependidikan, hingga rekan-rekan di lingkungan kampus.

“Yang paling saya rasakan bukan hanya fasilitas fisiknya, tetapi bagaimana saya diterima sebagai bagian dari lingkungan akademik secara setara,” ucap Rozi.

Pendidikan yang inklusif

Dia juga menilai bahwa Unair sudah berkembang menjadi kampus yang semakin inklusif dengan kehadiran berbagai fasilitas aksesibilitas seperti ramp, lift ramah kursi roda, dan akses gedung yang lebih mudah dijangkau.

Namun menurutnya, pendidikan inklusif tidak berhenti pada pembangunan fasilitas fisik semata.

“Kadang akses paling mahal bagi penyandang disabilitas bukan lift atau ramp, tetapi rasa diterima sebagai manusia yang setara,” katanya.

Selain itu, konsep inclusive learning juga harus mencakup akses informasi, komunikasi, dan lingkungan belajar yang nyaman bagi seluruh ragam disabilitas, baik daksa, netra, tuli, maupun neurodivergent.

Baca Juga: Kemenperin Gaet Startup Dorong Perluasan Akses Kerja Disabilitas di Industri

Inclusive learning bukan hanya tanggung jawab unit layanan disabilitas, tetapi budaya bersama seluruh sivitas akademika,” ujarnya.

Rozi menegaskan, lingkungan inklusif dibangun bukan hanya oleh bangunan fisik, tetapi juga oleh empati, komunikasi yang baik, dan cara memandang manusia secara setara.

Rozi pun berharap agar semakin banyak mahasiswa penyandang disabilitas yang memiliki keberanian untuk melanjutkan pendidikan tinggi dan mengembangkan potensinya.

“Saya percaya setiap orang punya kesempatan untuk tumbuh dan berprestasi. Kadang yang dibutuhkan hanya ruang yang menerima mereka untuk berkembang,” pungkasnya.

Leave a Reply