TopCareer.id – Perusahaan keamanan siber Kaspersky mengungkapkan bahwa meski mengalami konsekuensi psikologis dan sosial, banyak korban pelecehan di ruang digital Asia Pasifik yang memilih tidak mencari bantuan.
Studi oleh pusat riset pasar internal Kaspersky yang dilakukan di antara 7.600 responden korban pelecehan di 19 negara mengungkapkan, mayoritas responden (79 persen) mengakui dampak seperti depresi, trauma, dan stres jangka panjang.
Sementara, 73 persen menunjukkan konsekuensi sosial, termasuk kerusakan reputasi dan isolasi.
Mengutip siaran pers, Jumat (19/6/2026), di Asia Pasifik, 80 persen responden menyebutkan dampak psikologis dan sosial sebagai kemungkinan konsekuensi dari pelanggaran akibat teknologi tersebut.
Namun, hanya sekitar 59 persen responden Asia Pasifik yang mengaitkannya dengan kerugian ekonomi, dan hanya 53 persen yang menyadari risiko eskalasi fisik. Ini menunjukkan adanya kesenjangan dalam pemahaman tentang cakupan penuh dampaknya.
Konsekuensinya, 55 persen korban Asia Pasifik menjadi lebih berhati-hati secara online, 25 persen mengurangi kehadiran digital mereka, 18 persen membatasi komunikasi dengan teman atau keluarga, dan sekitar 12 persen mengakhiri hubungan.
Baca Juga: Waspada Penipuan Berkedok Piala Dunia 2026, Ini Modus-Modusnya
Dalam kasus yang lebih parah, 4 persen melaporkan kehilangan atau meninggalkan pekerjaan mereka dan 3 persen putus sekolah.
Laporan Kaspersky juga menemukan bahwa korban jarang mencari dukungan formal. 13 persen korban pelecehan di ruang digital Asia Pasifik bahkan tidak mengambil tindakan sama sekali.
Kurangya tindakan juga terlihat di antara para saksi. Mereka yang melihat pelecehan pada orang yang mereka kenal, 9 persen di antaranya tidak melakukan apa-apa.
Ketidakaktifan ini sebagian besar didorong oleh ketidakpastian daripada ketidakpedulian. Secara global, 32 persen mengatakan mereka tidak tahu bagaimana cara membantu dan 23 persen tidak yakin apakah keterlibatan mereka akan tepat.
Leonie Maria Tanczer, Profesor Associate di UCL Computer Science dan Kepala Laboratorium Penelitian Departemen Gender dan Teknologi menambahkan, dalam risetnya ditemukan bahwa dampak stalking daring dinilai tidak lebih kriminal ketimbang stalking luring , meski dampaknya serius.
“Demikian pula, penelitian persona penyalahgunaan teknologi kami menunjukkan bahwa banyak korban yang selamat belum mencari dukungan sebelum mencapai layanan spesialis, seringkali karena penyalahgunaan teknologi sulit dikenali, dinormalisasi di ruang digital, atau sulit dibuktikan,” ujarnya.
Secara keseluruhan, ini menunjukkan kesenjangan akuntabilitas yang kritis.
Baca Juga: Rentan ‘Halu’, Ini Tips Jaga Diri saat Bicara dengan Chatbot AI
Meski pemerintah, platform, dan masyarakat luas memiliki peran penting, perubahan yang bermakna juga bergantung pada individu yang mengenali perilaku berbahaya, menanggapinya dengan serius, dan bertindak sebelum penyalahgunaan menjadi dinormalisasi atau meningkat.
Tatyana Shishkova, Peneliti Keamanan Utama, Pejabat Kepala Pusat Penelitian Amerika dan Eropa di Tim Penelitian dan Analisis Global Kaspersky mengatakan, data ini menunjukkan kesenjangan yang mengkhawatirkan.
“Orang-orang menyadari rasa sakit emosional akibat pelecehan digital tetapi masih meremehkan seberapa jauh konsekuensinya dapat menjangkau karier, pendidikan, dan hubungan di dunia nyata,” ujarnya.
Dia juga menyoroti saat bahwa saat korban tidak bertindak, hal itu seringkali bukan karena mereka tidak peduli, tetapi karena mereka tidak tahu ke mana harus berpaling.
“Menutup kesenjangan itu melalui kesadaran, alat yang mudah diakses, dan panduan yang lebih jelas, adalah persis apa yang kami serukan dan upayakan,” pungkasnya.






