Tren

Jutaan Warga RI Naik Kelas, tapi Masih Rentan Jatuh Miskin

TopCareer.id – Meski jutaan orang Indonesia berhasil keluar dari kemiskinan dan masuk ke kategori calon kelas menengah, banyak di antaranya masih rentan secara ekonomi dan kembali jatuh miskin.

Hal ini dinyatakan oleh Indera Ratna Irawati Pattinasarany dalam pengukuhannya sebagai Guru Besar Tetap dalam bidang Stratifikasi Sosial di Departemen Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Universitas Indonesia (UI).

Dalam pidato berjudul “Di Balik Mobilitas: Ketidakamanan Sosial dalam Masyarakat Indonesia“, ia menyoroti menyoroti fenomena insecure mobility, sebuah kondisi ketika mobilitas sosial tetap berlangsung, tetapi tidak diikuti oleh konsolidasi rasa aman yang setara.

Ira menjelaskan, walau jutaan penduduk Indonesia berhasil keluar dari kemiskinan dan masuk ke kategori calon kelas menengah, banyak di antaranya masih menghadapi kerentanan ekonomi, pekerjaan tidak stabil, serta tekanan biaya hidup yang semakin melambung tinggi.

“Keberhasilan pembangunan harus dilihat bukan hanya dari seberapa jauh masyarakat mampu bergerak naik, tetapi juga dari apakah mereka dapat mempertahankan posisi dan hasil mobilitas tersebut dengan aman dan dalam jangka panjang,” kata Ira, mengutip laman resmi UI, Rabu (24/6/2026).

Baca Juga: Bank Dunia Ungkap Pekerja Kelas Menengah RI Anjlok

“Mobilitas tanpa rasa aman akan melahirkan paradoks: masyarakat tampak maju, tetapi tetap hidup dalam kecemasan,” dia menambahkan.

Ira pun merujuk data BPS dan kajian LPEM FEB UI yang menunjukkan terjadinya penurunan pada jumlah masyarakat kelas menengah dari 57 juta jiwa (21,4 persen) pada 2019 menjadi 48 juta jiwa (17,1 persen) pada 2024. Sementara, kelompok calon kelas menengah justru meningkat.

Kondisi ini memperlihatkan bahwa mobilitas sosial di Indonesia masih rapuh dan mudah tergerus oleh guncangan ekonomi maupun sosial.

Selain itu, dia juga menyinggung tingginya angka fenomena prekariat atau precarious employment rate (PER) yang mencapai 43,6 persen pada 2025, menandakan bahwa pekerjaan formal yang stabil semakin sulit diperoleh.

Baca Juga: Harga Pertamax Naik, Kelas Menengah Jadi Korban Lagi

Fenomena prekariat pun menjadi sorotan penting dalam pidato ini. Prekariat merujuk pada kelompok pekerja yang hidup dalam kondisi kerja tidak stabil, kontraktual, dan minim perlindungan jangka panjang.

Ira menjelaskan, istilah ini menggambarkan kelas sosial baru yang tumbuh di tengah fleksibilitas pasar kerja modern, ditandai oleh ketidakpastian pendapatan, keterbatasan akses jaminan sosial, serta risiko tinggi kehilangan pekerjaan.

Dalam konteks Indonesia, tingginya angka PER menunjukkan bahwa bahkan kelompok calon kelas menengah dan kelas menengah tetap menghadapi ketidakamanan kerja, sehingga mobilitas sosial yang berhasil dicapai banyak keluarga tetap rapuh dan rentan jatuh kembali ke posisi ekonomi yang lebih rendah.

Ira menegaskan, mobilitas sosial tetap menjadi aspirasi penting masyarakat Indonesia. Namun, keberhasilan untuk bergerak secara ekonomi dan sosial harus dikonversi menjadi rasa aman yang dapat dipertahankan dalam jangka panjang.

“Tanpa itu, mobilitas hanya akan melahirkan kecemasan baru,” pungkasnya.

Banner Loker

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button