Tren

1 Juta Sarjana Pengangguran, Pakar Singgung Ketimpangan Modal Sosial

TopCareer.id – Fenomena lebih dari satu juta lulusan perguruan tinggi atau sarjana yang jadi pengangguran bukan hanya terkait dengan kompetensi atau kesiapan kerja.

Pakar dari Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura) Radius Setiyawan menilai, masalah ini juga terkait dengan ketimpangan modal sosial dan perubahan struktur ekonomi.

Wakil Rektor Bidang Riset, Kerjasama, dan Digitalisasi Umsura itu menyebut, jika dilihat dari perspektif sosiolog Pierre Bourdieu, ijazah merupakan bentuk budaya yang dimiliki seseorang. Namun, modal budaya tidak selalu dapat dikonversikan secara langsung menjadi modal ekonomi berupa pekerjaan dan penghasilan.

“Untuk mendapatkan pekerjaan, seseorang juga membutuhkan modal sosial berupa jaringan, pengalaman, relasi, bahkan dukungan ekonomi,” kata Radius, mengutip laman resmi Umsura, Rabu (19/8/2026).

Ia menyebut, situasi ini membuat dua orang dengan tingkat pendidikan yang sama belum tentu memiliki peluang kerja yang setara.

Radius menyebut, ada masyarakat yang punya jaringan, pengalaman, kemampuan bahasa, akses teknologi, dan dukungan ekonomi keluarga, namun ada yang hanya punya ijazah. “Jadi persoalannya bukan sekadar siapa yang kompeten, tetapi siapa yang memiliki kapital untuk masuk dan bertahan di pasar kerja,” kata Radius.

Baca Juga: 1 Juta Sarjana Pengangguran, Alarm buat Sistem Pendidikan Nasional

Masalah ini semakin relevan dengan berubahnya struktur ekonomi Indonesia. Pertumbuhan lapangan kerja yang berkualitas tidak sebanding dengan jumlah tenaga kerja terdidik, sehingga pendidikan semakin sulit dikonversikan menjadi pekerjaan dan pendapatan.

“Jadi kita jangan hanya bertanya mengapa sarjana menganggur, tetapi juga mengapa struktur ekonomi kita tidak cukup menyediakan ruang untuk mengonversi pendidikan menjadi pekerjaan,” ujar Radius.

Persoalan ini juga tidak lepas dengan deindustrialisasi. Radius mengatakan, pertumbuhan ekonomi yang semakin padat modal berpotensi mendorong pertumbuhan ekonomi tanpa menciptakan lapangan kerja dalam jumlah sebanding.

“Kalau investasi semakin banyak masuk ke sektor padat modal, tetapi penciptaan pekerjaan tidak sebanding, kita menghadapi persoalan struktural. Sarjana semakin banyak, tetapi ruang untuk mengubah modal pendidikan menjadi pendapatan justru terbatas,” kata Radius.

Baca Juga: BPS Ungkap 1 Juta Sarjana di RI Menganggur

Radius pun meminta masalah pengangguran tidak hanya dilihat sebagai kegagalan indivud semata, tapi juga persoalan struktur sosial. “Kita perlu melihat siapa yang memiliki kapital untuk mendapatkan pekerjaan dan siapa yang tidak, serta bagaimana struktur ekonomi menciptakan atau justru membatasi kesempatan tersebut,” katanya.

Menurutnya, ketimpangan kapital juga membuat pengalaman generasi muda dalam memasuki dunia kerja berbeda-beda. Tidak semua lulusan memulai perjalanan karier dari titik yang sama.

“Generasi muda tidak memulai dari garis yang sama. Ada yang sejak awal memiliki privilege berupa dukungan ekonomi keluarga, jaringan sosial, pendidikan berkualitas, kemampuan bahasa, hingga akses terhadap teknologi dan pengalaman kerja,” katanya.

Di sisi lain, ada lulusan yang hanya mengandalkan ijazah sebagai modal utama untuk memasuki pasar kerja. Kondisi ini pun menunjukkan bahwa persoalan pengangguran sarjana tidak cukup dilihat dari jumlah lulusan atau tingkat kompetensinya saja.

“Ketika kita berbicara tentang pengangguran sarjana, kita juga harus melihat bagaimana ketimpangan privilege menentukan siapa yang lebih mudah mengubah modal pendidikan menjadi pekerjaan dan siapa yang tetap berada dalam antrean pengangguran,” pungkasnya.

Banner Loker

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button