Tren

Amazon Pakai 1 Juta Robot, Nasib Pekerja Manusia Disorot

TopCareer.id – Raksasa e-commerce Amazon memiliki lebih dari 1 juta robot mulai dari lengan mekanis, pengangkut barang di lantai gudang, hingga mesin besar untuk menyortir palet.

Upaya ini memang memungkinkan perusahaan mempercepat pengiriman dan menekan biaya operasional. Namun, pakar menilai langkah tersebut menjadi ancaman bagi 1,5 juta pekerja penuh waktu dan paruh waktu.

Profesor Bisnis George Mason University, Brad Greenwood, mengatakan, robot di gudang Amazon tak hanya membantu perusahaan memangkas biaya pekerja, tapi juga membatasi ruang gerak pekerja manusia di fasilitas perusahaan.

“Selama 100 tahun terakhir, sebagian besar otomatisasi yang kita lihat biasanya berlangsung jauh dari para pekerja,” kata Greenwood dalam wawancara kepada Ars Technica, mengutip Futurism, Selasa (20/10/2026).

“Tugas berisiko tinggi dialihkan dari pekerja dan dilakukan dengan cara yang tidak berada dekat secara fisik dengan mereka,” imbuhnya.

Namun, menurut Greenwood, pertumbuhan armada robot Amazon benar-benar mengubah dinamika tersebut karena robot berada dekat secara fisik dengan pekerja, dan robot punya kemampuan menentukan kecepatan kerja.

Baca Juga: Robot Gelar Aksi Demo di Polandia, Tuntut AI Diregulasi

Perubahan ini menguntungkan Amazon dari sisi bisnis. Robot membantu mengurangi hambatan dalam jaringan logistik perusahaan yang luas, meningkatkan kecepatan, dan memperkuat keuntungan perusahaan.

Dengan memungkinkan robot untuk menentukan kecepatan kerja, menurut Greenwood, Amazon juga mengurangi ketergantungannya pada tenaga manusia.

Kondisi ini pun melemahkan posisi tawar pekerja, baik secara individu maupun dalam upaya perundingan kolektif.

Sementara di luar itu, robot Amazon juga menarik perhatian publik. Pencapaian otomatisasi ini dinilai mengalihkan sorotan dari masalah yang tak kalah penting, yaitu soal kecelakaan kerja.

Hal ini pun menguntungkan bagi Amazon, terlebih saat kondisi di fasilitas perusahaan tampaknya semakin berbahaya, seiring bertambahnya jumlah robot yang beroperasi.

Belum lagi dampak penggunaan kecerdasan buatan (AI) dalam pengambilan keputusan terkait sumber daya manusia.

Baca Juga: Krisis Pekerja Terampil, Robot Humanoid Diuji Coba Kerja di Bandara

Joan Moriarty, Direktur Riset Strategis di koalisi serikat pekerja Strategic Organizing Center, menilai Amazon lebih suka menyoroti inovasi robot terbarunya ketimbang membahas banyaknya pekerja yang cedera akibat tuntutan efisiensi kerja.

“Amazon suka membicarakan robot-robot terbarunya karena perusahaan tidak ingin membahas puluhan ribu pekerja Amazon yang mengalami cedera setiap tahun akibat obsesi perusahaan untuk memaksimalkan kecepatan dan meminimalkan biaya,” katanya.

Pada 2012, Amazon mengakuisisi Kiva Systems, sebuah perusahaan yang berbasis di Massachusetts, untuk kemudian mendirikan Amazon Robotics.

Sejak saat itu, Amazon sudah mengembangkan, memproduksi, serta mengerahkan lebih dari satu juta robot di seluruh jaringan operasionalnya.

Dalam laman resminya, perusahaan menyebut tujuan penggunaan teknologi robotika dalam operasional Amazon cukup sederhana.

“Yakni memadukan karyawan dengan teknologi yang tepat agar pekerjaan mereka lebih aman, mudah, dan produktif, sekaligus memungkinkan pengiriman paket kepada pelanggan lebih cepat dari sebelumnya,” kata Amazon.

Banner Loker

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button