Tren Kidult Economy, Pakar Ingatkan Tetap Bijak Kelola Pengeluaran
TopCareer.id – Kidult economy saat ini tengah jadi tren di kalangan dewasa yang menggemari komik, action figure, hingga wahana permainan.
Banyak orang yang rela mengeluarkan uang demi barang-barang tersebut, dengan alasan kesenangan nostalgia.
Gancar C Premananto, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Airlangga (Unair) menjelaskan, fenomena kidult economy lahir dari strategi produsen internasional yang mengincar pasar dengan daya beli lebih.
“Kondisi demografis piramida terbalik di negara-negara maju memicu penurunan jumlah konsumen anak, yang berdampak pada hilangnya pasar utama bagi produsen mainan internasional,” kata Gancar, mengutip laman resmi Unair, Sabtu (31/10/2026).
Fenomena ini sesungguhnya masih terikat dengan lipstick effect, di mana konsumen membeli barang-barang kecil yang sifatnya mewah atau premium, meski sedang mengalami situasi ekonomi yang sulit.
Baca Juga: Mal dan Konser Tetap Ramai Walau Krisis Ekonomi, Apa Itu Lipstick Effect?
Jika dirinci, kidult economy hadir sebagai bagian dari lipstick effect yang mengarah pada sektor pembelian mainan dan permainan.
Gancar mengatakan, konsumen lebih tertarik pada kebahagiaan jangka pendek (short term orientation) ketimbang kebahagiaan jangka panjang yang belum menentu.
Menurutnya, rutinitas padat yang setiap hari dilalui orang dewasa menjadi salah satu alasan di balik fenomena pembelian mainan dan pengalaman bermain.
Ia menyebut, banyak orang menggunakan dalih self-reward agar tetap bahagia di tengah gempuran rutinitas harian.
“Aktivitas sehari-hari yang padat menjadi sumber stres (stressor) yang berpotensi mengganggu kesehatan mental mereka,” Gancar menjelaskan.
Baca Juga: Mendorong Anak Membaca Komik Ternyata Baik, Ini Alasannya
Menurut Gancar, sejumlah survei mengenai kidult di Indonesia mencatat bahwa masyarakat mayoritas rutin mengeluarkan Rp 500.000 sampai Rp 1.000.000 per bulan, demi hobi dan nostalgia.
Ia pun mengatakan, kondisi tersebut menunjukkan potensi bisnis di dunia permainan dan mainan.
Di sisi lain, Gancar mengingatkan agar masyarakat juga tetap bijak dalam mengatur anggaran. Jangan sampai pemenuhan hobi dan nostalgia memicu krisis keuangan personal, hingga terjerat pinjaman online.
Masyarakat juga diimbau untuk tidak terjebak dalam perilaku mubazir yang sekadar membeli lalu menumpuk mainan sebagai pajangan tanpa tujuan investasi. Kontrol finansial tetap menjadi kunci dalam menghadapi fenomena kidult economy.
“Menjaga kesehatan mental di tengah ketidakpastian ekonomi memang penting, namun harus dibarengi dengan penganggaran yang matang. Jangan sampai menjebak diri dalam jeratan pinjol dan perilaku mubazir,” pungkasnya.



